"Mas, maaf saya belum bisa bayar setoran sewa perahu," nada suaranya nelayan setengah baya seperti ragu dan bibirnya bergetar ketakutan.
Tersenyum Aswan perhatian deretan perahunya semakin banyak berjejer beralas pasir putih di tepian pantai sedikit bergoyang di ajak main dengan riak gelombang ombak kecil.
"Hari ini atau besok, atau kapan kamu baru ada uang untuk bayar setor sewa perahu, boleh tidak apa-apa. Yang penting kamu sabar, dan tetap berusaha dan jangan lupa sholat ya," sekali di tepuk pundak nelayan itu oleh telapak tangan Aswan yang kini sudah menjadi juragan perahu sangat baik hati.
Nelayan itu hanya mengangguk terharu, ia salah satu nelayan yang sempat berhati dingin dengan matan pejabat. Nelayan itu pernah menyimpan rasa kekecewaannya pada mantan pejabat, di mana ia telah menilep uangnya yang harusnya di berikan padanya. Sekarang ini nelayan itu tidak mengira, bila hati juragan perahu itu hatinya sangat baik sekali padanya.
"Nih ambil untuk istri dan anakmu. Ayo ambil jangan malu-malu," di sodorkan uang lembaran seratus ribu pada nelayan semakin terenyuh hatinya dengan kebaikan juragan perahu itu padanya.
"Mas, aku nggak nyangka kamu begitu baik dan peduli sama nelayan itu. Aku makin percaya dan nggak nyesel punya suami juragan perahu. Kapan waktu aku juga bisa sewa perahu, gratis. Aku bisa melaut bebas mengarungi lautan luas itu," canda dan memuji istrinya pada suaminya sejenak menatap haru dalam senyuman.
"Pastinya kamu melaut nggak sendirian, tetap bersamaku," jawab suaminya lengan kirinya merangkul bahu istrinya tersenyum. Keduanya menatap luatan lepas beratap langit senja sedang bermain sinar kuning indung matahari sebentar lagi akan kembali pulang.
***
"Bibi salah, masa 141 di bagi 3 hasilnya 45. Yang benar ini. 141 di bagi 3 hasilnya 47," ponakannya lebih tahu padahal bibinya hanya berpura-pura mengetes saja.
"Pintaran kamu ngitungnya. Ya udah kamu belajar aja sendiri," bibinya menahan tawa geli melihat keponakannya kembali menghitung dengan dengan jemarinya sembari berguman dalam hatinya.
"Assalamualaikum," __ "Waalaikumsalam," suara salam terdengar dari luar di sambut salam dengan Putra sejenak menoleh keluar dan cepat menoleh pada bibinya sejenak tertegun menatap seorang lelaki berdiri depan pintu terbuka lebar.
"Bi Sarah, itu siapa?" bingung keponakannya beranjak bangun sembari mengambil buku tulis dan pelajaran lalu di peluknya.