Menggandeng Langkah Terakhirmu

Lewi Satriani
Chapter #1

UNDANGAN DARI DUNIA JAUH

Pagi di Jakarta selalu dimulai dengan suara yang sama bagi Satrio; deru kendaraan yang belum sepenuhnya sadar, pedagang yang menata harapan di atas gerobak, dan orang-orang yang berangkat tanpa sempat bertanya apakah mereka bahagia atau tidak. Dan jauh sebelum itu dimulai Satrio sudah bangun lebih dulu.

Lelaki itu duduk di tepi ranjang sempit di kamar kontrakannya usai menjalankan rutinitas doa pagi, menatap lantai yang dingin seperti kenyataan hidup. Jam ponselnya menunjukkan pukul 04.37 WIB. Tidak ada yang istimewa dari angka itu. Tidak pernah ada yang istimewa dari hari-harinya, kecuali fakta bahwa ia berhasil melewatinya.

Ia mengusap wajahnya pelan, dan bergumam, “Selamat pagi, hidup! Kita coba lagi, ya hari ini.”

Tidak ada jawaban…

Tentu saja tidak ada…

Dia berdiri, meraih handuk tipis yang sudah mulai kehilangan bentuk aslinya, lalu berjalan ke kamar mandi bersama yang terletak di ujung lorong. Air dingin menyentuh wajahnya, seolah mengingatkan bahwa ia masih hidup. Dan itu berarti ia masih harus menjalani segala aktivitas serta rutinitasnya. Setelah itu, semuanya berjalan seperti biasa.

Seragam sederhana dengan logo dari sebuah perusahaan transportasi online. Kemejanya tampak kusam karena terlalu sering dicuci. juga tertimpa terik matahari dan siraman hujan. Celana bahan yang mulai pudar warnanya. Sepatu yang pernah hitam, tapi sekarang lebih menyerupai kompromi antara hitam dan debu.

Profesinya membuat dia tidak pernah tahu akan ke humormana dirinya hari itu, yang dia tahu hanya dia harus bersiap kemana pun yang diminta, kadang dia mengantar orang ke bandara, kadang mengantar barang, kadang menunggu berjam-jam hanya untuk satu perjalanan singkat yang dibayar tidak seberapa. Hidupnya tidak pernah benar-benar diam, tapi juga tidak pernah benar-benar bergerak maju.

Dinyalakannya mesin mobil. Suara mesin itu kasar, seperti batuk yang sudah lama diabaikan, “Tenang,” katanya pada mobil itu. “Untungnya hanya kamu yang masih muda sehingga aku masih bisa dipaksa kerja.”

Dia tersenyum kecil…humor adalah cara termurah untuk bertahan hidup.

Pesanan pertama hari itu datang dari seorang pria muda yang terburu-buru. “Bandara, Pak. Cepat ya, saya sudah telat,” katanya sambil masuk ke kursi belakang.

Satrio mengangguk. “Siap.”

Mobil melaju menembus jalan yang mulai padat. Pria itu sibuk dengan ponselnya, mengetik cepat, sesekali menghela napas panjang. Satrio tidak bertanya. Ia sudah terlalu lama berada di pekerjaan ini untuk tahu bahwa tidak semua orang ingin bicara. Namun, di satu kesempatan, pria itu mengangkat wajah lalu bertanya tiba-tiba, “Pernah ke luar negeri,pak?”

Satrio tertawa kecil. “Pernah, pak.”

“Oh ya? Ke mana?”

“Oslo, Pak…”

“Oslo, Norway?”

“Bukan Pak, Oslo di Jawa Tengah.”

“Oslo…Jawa Tengah?” sang penumpang mengerutkan kening.

“Iya pak, di sana nonton wayang orang di Taman Sriwedari.”

“Oooh, itu mah Solo, pak,” pria itu tertawa singkat, lalu kembali menatap ponselnya.

Percakapan selesai. Tidak ada penjelasan kenapa pria itu menanyakan soal pernah ke luar negeri atau tujuan dari percakapan tadi. Kalimat-kalimat mereka hanya timbul begitu saja…sembarangan…dan tidak perlu penjelasan atau tujuan apapun. Seperti banyak hal dalam hidup Satrio—dimulai sebentar, lalu selesai tanpa bekas. Hubungan singkat mereka pun berakhir begitu saja ketika Satrio menurunkan pria itu di bandara.

Siang hari selalu menjadi waktu yang paling jujur. Tidak ada kesibukan yang bisa dijadikan alasan. Tidak ada suara yang bisa menutupi isi kepala. Hanya ada panas, diam, dan pikiran yang mulai berani berbicara. Satrio memarkir mobil di bawah pohon tua di pinggir jalan. Ia membuka bekal nasi bungkus—nasi putih, tempe goreng, dan sambal yang terlalu pedas untuk seseorang yang hidupnya sudah cukup panas.

Ia mulai makan dengan perlahan. Di sela-sela suapan, ia membuka ponsel. Berharap ada tampilan pesanan masuk di layar notifikasi. Namun layar itu kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada siapapun yang menunggu jawabannya.

Puluhan tahun lalu layar itu sering berbunyi. Ketika diangkat terdengar suara kecil, riang, penuh semangat. di balik sambungan,

“Papa, lihat! Aku bisa nulis namaku!”

“Papa, hari ini aku dapat bintang lima!”

“Papa, jangan pulang malam ya...”

Satrio berhenti mengunyah.

Kenangan itu datang tanpa izin, seperti hujan di musim yang salah. Nama anak itu masih tersimpan di kontaknya. Nara.

Tanpa foto… tanpa status…tanpa kehidupan…

Seperti seseorang yang pernah menjadi pusat dunia, lalu perlahan berubah menjadi kenangan yang terlalu berat untuk disentuh.

Satrio menatap nama itu lama.

Dia tak pernah berani untuk menekan tombol panggil. Pernah suatu kali dalam hidupnya dia pernah hampir menekannya. Namun rasa pengecutnya jauh lebih besar dari rasa rindu…padahal dia tahu, ‘hampir’ itu tidak pernah cukup untuk memperbaiki sesuatu.

Dia menghela napas panjang, lalu mengunci ponselnya seraya bergumam. “Ya sudah. Makan dulu saja. Masalah bisa nunggu...”

Padahal, ia tahu, masalah tidak pernah benar-benar menunggu. Ia hanya diam, lalu tumbuh lebih besar. Perceraian adalah kata yang terdengar sederhana, tapi meninggalkan jejak yang rumit. Satrio tidak pernah benar-benar mengerti kapan semuanya mulai retak.

Mungkin sejak ia terlalu sibuk bekerja.

Mungkin sejak istrinya merasa sendirian.

Mungkin sejak mereka berhenti bicara, tapi tetap tinggal di rumah yang sama.

Atau mungkin...sejak mereka mulai menyimpan amarah kecil yang seharusnya dibicarakan.

Lihat selengkapnya