Layaknya kota yang telah sekian lama disusurinya—yang dari tahun ke tahun semakin larut dalam pembangunan jalan dan gedung-gedung baru—selalu ada sudut-sudut kotor yang disembunyikan di balik indahnya panorama beton. Begitu pula luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya belajar bersembunyi.
Satrio menyadari itu sejak lama—sejak hari ketika kenangannya berubah menjadi tempat yang dia hindari untuk ingat. Namun malam ini berbeda. Setelah pesan dari Nara semalam, sesuatu yang selama ini terkubur rapi di dalam dirinya seperti digali kembali, tanpa permisi.
Ia duduk di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Mesin mati. Lampu jalan menyinari kaca depan dengan cahaya kuning yang lelah. Ponsel di tangannya masih terbuka, menampilkan pesan yang sama, kalimat yang sama, seperti mantra yang terus diulang: “Aku ingin Papa datang.”
Satrio menatapnya lama.
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membangkitkan seluruh masa lalu yang selama ini ia paksa diam. Ia menghela napas pelan. Dan tanpa ia sadari, pikirannya mulai berjalan mundur
***
Sungguh tak disangkanya wanita cantik itu kini bisa menjadi miliknya, seorang yang menjadi perhatian hampir semua orang di kampungnya…seorang yang diinginkan untuk menjadi pendamping hidup oleh setiap lelaki, dan dialah yang memenangkan hatinya.
Wanita di hadapannya itu membalas senyum sumringahnya dengan mengecup punggung tangannya, “Sekarang kita bersama, dan kamu yang akan jadi imamku.”
Ucapannya terdengar begitu tulus, jauh dari hingar bingar perkataan tamu yang sebelumnya memenuhi aula kecil, dengan kursi plastik yang disusun rapi, dan makanan yang harus dihemat agar cukup untuk semua tamu. Kini mereka hanya berdua di kamar itu di malam pertama itu, saling bergenggaman tangan erat, yakin bahwa keberadaan mereka berdua cukup untuk mengatasi apa pun di dunia.
Satrio mengangguk. “Iya. Selama kita bareng, yang lain bisa kita kejar pelan-pelan.”
Kalimat itu terdengar seperti janji. Dan seperti banyak janji lain, ia tidak tahu bahwa suatu hari akan terasa terlalu berat untuk ditepati.
***
Lima tahun berlalu sejak mereka mengucapkan janji pernikahan. Karier Satrio sedang menanjak sebagai supervisor sebuah perusahaan periklanan sementara Rina membantu dengan usaha kecil-kecilan dari rumah, menerima pesanan kue lapis. Mereka tidak punya banyak, tapi Satrio belajar bersyukur. Bersyukur untuk istri yang menemaninya, juga gadis kecil yang lahir melengkapi dunia mereka…
Bukan hanya melengkapi…dunia dirinya dan Rina juga berubah total…
Ia masih ingat pertama kali menggendong anaknya. Tubuh kecil itu terasa begitu ringan, tapi tanggung jawab yang datang bersamanya terasa seperti sesuatu yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa takut.
Takut tidak cukup.
Takut gagal.
Takut tidak bisa menjadi ayah yang baik.
Dan tanpa ia sadari, rasa takut itulah yang perlahan mulai menggerogoti semuanya, mengikis tanpa ampun seiring waktu yang terus berlalu…yang membuatnya tidak menyadari betapa cepat masa balita itu berlalu…
“Mas, kamu pulang jam berapa hari ini?”
Pertanyaan itu sering muncul di tahun-tahun berikutnya.
Satrio biasanya menjawab singkat, “Tidak tahu. Takutnya nanti malam ada rapat dadakan.”
“Setiap hari jawabannya sama,” Rina berkata suatu malam.