Sore hari setelah orderan tarikan mulai mereda, Satrio memutuskan berhenti sejenak di pangkalan kecil tempat beberapa sopir online biasa berkumpul. Pangkalan itu berupa warung kopi sederhana, menyediakan bukan hanya kopi panas, tetapi juga gorengan hangat dan Indomie goreng untuk untuk mengakali perut yang belum sempat makan siang, namun yang membuat warung itu jadi favorit adalah sopir-sopir langganan yang mangkal di situ boleh berhutang. Itu yang membuat obrolan di warung itu sering kali lebih panas dari kopinya.
“Satrio!” sapa Toni, salah satu temannya yang sedang nongkrong di warung sore itu. “Lama tidak nongol. Sibuk kali dia, narik terus…mau jadi orang kaya?”
Satrio duduk, tersenyum tipis. “Iya, lagi sibuk miskin.”
Tawa pecah.
“Ngopi dulu,” kata Toni sambil mendorong gelas ke arahnya. “Gratis, tapi bayarnya pakai cerita.”
Satrio mengangguk. Memang itu yang dia perlukan. Menceritakan apa yang sedang bergelayut di pikirannya. Ia butuh bicara. Atau setidaknya... butuh mendengar sesuatu yang tidak datang dari pikirannya sendiri, “Sebelum cerita, gue mau tanya. Menurut elu bagaimana cara paling cepat buat gue dapat uang banyak?”
Toni mengangkat alis, “Banyak itu berapa?”
Satrio ragu sejenak sebelum menjawab, “Puluhan juta.”
“Puluhan juta itu berapa? Sepuluh juta?”
“Sembilan puluh juta,” Satrio mengangkat bahu.
“Wah, itu sih gampang,” Udin, salah satu temannya yang lain ikut bergabung dalam obrolan, sambil tertawa.
Satrio menoleh cepat. “Gimana?”
“Bangun tidur, terus lihat ke cermin. Kalau tiba-tiba lo jadi sultan, ya berarti berhasil.”
Tawa meledak.
Satrio ikut tertawa kecil, “Setan, lu! Gue kira elu serius.”
Udin mengangkat bahu. “Serius juga jawabnya. Kalau kita tahu caranya, kita nggak ada yang nongkrong di sini.”
Toni menimpali, “Atau... lo bisa ikut acara kuis. Siapa tahu dapat jackpot.”
“Gue aja nggak bisa jawab pertanyaan apa ‘ibukota Kazakhstan’,” jawab Satrio.
“Ya sudah, cari yang hadiahnya motor dulu,” celetuk Udin yang lagi-lagi memancing tawa.
Seperti yang sudah dia duga, obrolan di tempat ini ringan…terlalu ringan untuk masalah yang ia pikul, dan sudah pasti tidak ada solusi dari teman-temannya, namun dia tak menyerah, “Kalau gue pinjam uang?”
Toni langsung menggeleng. “Pinjam ke siapa?”
“Bank?” Satrio menyahut.
“Bank butuh jaminan.”
“Jaminan gue cuma mobil sama hidup yang belum jelas,” kata Satrio.