Gedung kantor perusahaan transportasi online itu berdiri di antara deretan ruko modern dengan dinding-dinding kaca yang memantulkan lampu kota yang mulai menyala setelah matahari tenggelam. Tidak terlalu tinggi, hanya empat lantai, tapi cukup untuk membuat Satrio merasa kecil ketika berdiri di depannya. Seperti kata kedua temannya tadi sore, perusahaan taksi online tempat mereka bekerja memang belum punya kantor sendiri namun bukan berarti mereka tidak punya uang…dan di sanalah harapannya tergantung…
Lelaki itu mematikan mesin mobil perlahan. Tangannya tetap menggenggam setir beberapa detik lebih lama. Seperti seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian sebelum masuk ke ruang operasional. Dia bergumam pada dirinya sendiri, “Tenang, ini cuma mau pinjam uang, bukan mau melamar jadi menantu presiden.”
Namun tak dipungkiri jantungnya tetap berdegup lebih cepat.
Satrio menoleh ke kaca spion tengah. Merapikan rambutnya dengan tangan. Seragamnya yang berupa kemeja biru berlogo tampak lusuh karena dipakai bekerja seharian, buru-buru dimasukkannya bagian bawah kemeja ke dalam celana dengan tak lupa mengencangkan ikat pinggang. Meski kini tampak lebih rapi, kusamnya seragam itu tetap tak bisa disembunyikan, yang mana tergambar di bagian kerah yang mulai memudar warnanya.
“Minimal kelihatan seperti orang yang masih punya masa depan,” dia tertawa kecil, tawa yang gugup, sebelum turun dari mobil.
Lobby kantor itu dingin. Bau pendingin ruangan bercampur dengan aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan. Orang-orang berjalan cepat sambil membawa laptop atau ponsel, seolah hidup mereka selalu memiliki tujuan yang jelas. Penghuni kantor ini sepertinya tidak punya kehidupan di luar pekerjaan, bahkan di jam seperti sekarang saja mereka masih tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
“Ada yang bisa dibantu?” seorang petugas keamanan menatapnya dengan curiga. Satrio menyesali waktu kedatangannya, seharusnya dia datang pagi-pagi saja karena di pagi hari biasanya meja resepsionis itu dihuni gadis cantik berwajah segar, bukannya satpam gempal berwajah masam. Namun apa daya bila dia perlu kejelasan mendapatkan uang dengan segera.
“Saya mau ketemu Pak Armand,” Satrio menjawab.
“Sudah ada janji?”
Satrio ragu sepersekian detik, “Sudah bilang lewat WA.”
Satpam itu menyipitkan mata sejenak sebelum menyahut, “Silakan tunggu di sofa.”
Satrio duduk di sofa abu-abu dekat jendela. Tangannya berkeringat. Di luar, kendaraan berlalu-lalang tanpa peduli ada seorang lelaki berumur empat puluhan yang sedang mencoba menjaga harga dirinya agar tidak runtuh. Ia mengeluarkan ponselnya untuk membaca pesan dari Nara, kalimat yang sekarang baginya terasa seperti tiket dan hukuman sekaligus.
“Sat?”
Satrio mengangkat kepala cepat. Seorang pria berkemeja putih berdiri beberapa langkah di depannya. Rapi. Bersih. Wangi. Rambutnya mulai memutih di sisi pelipis, tapi justru membuatnya terlihat lebih berwibawa. Itu adalah pria yang dicarinya…Armand… Direktur operasional perusahaan ini, dan dulu rekannya di perusahaan lama.
Satrio berdiri cepat, “Mand... eh, Pak Armand.”
Armand tertawa kecil lalu memeluk bahunya singkat,“Masih kaku aja sama gue.”
“Ya sekarang kan lo direktur.”
“Dan lo masih tetap Satrio yang suka salah kirim email ke klien.”
Satrio tertawa malu,“Wah, itu jangan diungkit.”
“Masuk dulu, yuk! Kita bisa ngobrol di ruangan gue karena masih ada yang harus gue kerjain.”
Ruangan Armand jauh lebih besar daripada yang Satrio bayangkan. Ada rak buku, meja kerja besar, dan jendela lebar yang menghadap kota. Satrio langsung merasa seperti sandal jepit nyasar ke showroom mobil mewah.
“Duduk,” kata Armand menunjuk bangku sepasang bangku di hadapan meja kerjanya. Lelaki itu menuangkan kopi dari mesin kecil di sudut ruangan. “Masih kopi tanpa gula?”
“Masih ingat aja,” Satrio tersenyum kecil.
“Gue ingat semua kebiasaan buruk teman kerja gue dulu.”
Satrio menerima cangkir itu. Hangat…nyaman…dan anehnya, justru membuat dadanya makin sesak. Karena ruangan ini mengingatkannya pada kehidupan yang pernah dia punya.
***