Menggandeng Langkah Terakhirmu

Lewi Satriani
Chapter #5

BINARY OPTION TO THE RESCUE

Gerimis mulai turun ketika Satrio keluar dari gedung itu. Langkahnya lambat. Kota masih sibuk. Orang-orang masih bekerja. Hidup tetap berjalan. Tapi di dalam dirinya, semuanya terasa menggantung. Ia masuk ke mobil. Menutup pintu. Lalu diam….lama sekali…

Tangannya memegang amplop kecil pemberian Armand. Setelah menghitung isinya beberapa kali, Satrio sadar jumlah itu memang sangat membantu. Nominal yang ada di dalam sini jauh lebih besar dari penghasilannya sebulan. Tapi masih jauh dari cukup. Austria masih terasa sejauh langit dari bumi. Dia menyandarkan kepala ke kursi. Menutup mata.

“Sekarang apa?” bisiknya.

Tidak ada jawaban. Hanya suara kendaraan di luar. Dan rasa takut yang mulai membesar lagi. Satu-satunya harapan adalah pinjaman dari kantornya… sesuatu yang nyaris mustahil memang…namun itulah pintu yang dia tahu…namun setelah pertemuan tadi dia sadar pintu itu sudah tertutup sepenuhnya.

TOK TOK TOK…

Satrio tersadar mendengar ketukan di jendela. Samar-samar dilihatnya wajah Udin di balik jendela mobilnya. Sahabatnya itu memandanginya dengan cengiran lebar, “Ngapain elu bengong di tengah gerimis begini?”

“Soalnya wajah lo kayak habis ditolak mantan,” jawabnya. “Boleh gue masuk?”

“Cepetan. Ntar elu kuyub masuk angin, gue lagi yang disalahin. Nggak gue kunci.”

Udin masuk dan duduk di bangku di sebelah bangku pengemudi, setelah menutup pintu dia bertanya, “Elu pasti habis menghadap. Gimana?”

“Ditolak.”

Udin mendesis pelan.“Bener seperti kata Toni…”

Satrio tertawa hambar sembari melambaikan amplop yang didapatinya dari Armand, “Tapi gue masih dapat ini. Mungkin karena pak Armand nggak enak sama gue.”

“Berapa jumlahnya?” dan mata Udin membesar ketika Satrio menyebutkan sejumlah angka. “Gila, men. Itu lumayan banget. Wah, baik banget dia sama elu”

“Kocak! Masih jauh kali dari yang gue perluin buat jalan ke Austria,” sanggah Satrio. “Austria masih terlalu jauh buat orang kayak gue.”

Udin terdiam sebentar. Lalu mendekat sedikit, “Kalau gue punya cara cepat elu mau coba?”

“Cara cepatnya bagaimana?” Satrio menoleh.

“Trading,” Udin menurunkan suara.

“Trading apa?”

“Binary.”

Satrio makin bingung, “Wah, gue nggak ngerti hal-hal begitu.”

Udin mengambil ponsel dari saku celana dan membuka salah satu aplikasi yang menunjukkan grafik naik turun berwarna hijau merah. Dia menyodorkan ponsel itu di depan wajah Satrio, “Ini gampang, kok! Lo tinggal prediksi naik turun. Kalau benar, duit lo bisa dobel dalam hitungan menit.”

Satrio menatap layar itu. Tidak benar-benar paham,“Tunggu... ini judi?”

Lihat selengkapnya