Menggandeng Langkah Terakhirmu

Lewi Satriani
Chapter #6

ANGKA-ANGKA MENJANJIKAN, PEDE YANG NAIK

Dua minggu bisa terasa sangat singkat bagi orang bahagia, sebaliknya terasa sangat panjang bagi orang yang sedang berharap. Bagi Satrio, dua minggu terakhir terasa seperti keduanya sekaligus. Hidupnya belum benar-benar berubah, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai merasa masa depan tidak sepenuhnya gelap.

Semua itu karena angka-angka kecil di layar ponselnya. Angka yang bergerak naik turun. Hijau dan merah. Grafik yang katanya mengikuti pergerakan market. Dan entah bagaimana, market itu mulai terlihat lebih ramah padanya daripada hidup selama ini. Di samping itu dia merasa pengetahuannya mulai bertambah dengan asupan video dari seorang tokoh binomo bernama Hendro Kontz yang mengajarkan banyak teknik dari dunia yang baru dikenalnya…pengetahuan yang membuatnya makin percaya diri membaca pola-pola grafik.

Bahkan dia sudah mencemplungkan semua uang yang diberikan Armand ke dalam akun aplikasi ini. Dia sempat merasa sedikit bersalah saat mentransfer sebagian uang itu ke aplikasi trading. Namun Udin terus meyakinkannya untuk berani mengambil langkah,“Makin gede modal elu, makin cepet elu sampai ke angka target elu. Elo jangan mikir miskin terus.”

Kalimat itu terdengar menyebalkan. Tapi juga... sedikit benar. Dan hasil awalnya memang menggoda…

Hari pertama untung kecil.

Hari kedua untung lagi.

Hari ketiga kalah sedikit, lalu balik untung.

Pelan-pelan, saldo itu naik.

Tidak drastis.

Tapi nyata.

Dalam dua minggu, uangnya bertambah hampir setengah dari modal awal.

Satrio sampai beberapa kali mengecek kalkulator karena takut salah hitung.

“Gila, ini serius,” gumamnya suatu malam. Ia duduk di kontrakannya sambil menatap layar ponsel dengan mata berbinar seperti penggali emas yang baru saja menemukan tambang emas pertamanya.

Dia menghitung lagi...dan lagi…tetap sama…uangnya memang bertambah.

“Ya Tuhan...” bisiknya pelan. “Jangan-jangan selama ini aku miskin cuma karena tidak kenal candle.”

Ia tertawa sendiri.

Lalu langsung terdiam.

Karena tiba-tiba ia mulai membayangkan sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.

Austria…

Malam itu, untuk pertama kali sejak pesan Nara datang, Satrio membuka Google Maps dan melihat Austria tanpa merasa sesak. Lelaki itu memperbesar peta di layar. Melihat kota tempat pernikahan itu akan berlangsung. Nama kota kecil yang masih sulit ia ucapkan.

“Wina...” gumamnya. Lalu cepat mengoreksi diri.”Eh bukan. Vienna.”

Ia mengangguk-angguk sendiri seperti profesor geografi yang baru menemukan benua,“Aku datang ya nanti,” katanya pelan ke layar.

Kalimat itu terdengar bodoh…tapi juga hangat...

***

 

Dan ada sesuatu yang berubah di hari-hari berikutnya dalam dua minggu itu. Satrio memang masih tetap menarik taksi online. Tetap menghadapi penumpang yang suka bilang, “Pak, cepat sedikit ya,” seolah mobilnya punya mesin jet. Tetap makan nasi warteg. Tetap tinggal di kamar kontrakan sempit. Tapi ada sesuatu yang berbeda…

Harapan…dan harapan adalah narkoba paling kuat bagi manusia.

Ia mulai lebih semangat bekerja. Setiap uang hasil narik sebagian mulai ia masukkan lagi ke trading,

“Modal harus diputar,” kata Udin dengan gaya mentor finansial dadakan.

Lihat selengkapnya