Sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu saat akan terjatuh juga…
Keuntungan yang didapatnya berturut-turut selama dua minggu ini membuatnya berpikir bahwa dirinya memiliki sentuhan Midas. Apa pun keputusan yang dipilihnya pasti berakhir dengan kemenangan…kemenangan yang mendatangkan keuntungan. Oleh karenanya, ketika terjadi satu kekalahan kecil Satrio menganggapnya tidak penting…
Malam itu ia duduk di dalam mobil sambil menunggu order masuk. Kopi sachet di cup holder masih mengepul tipis ketika grafik di layar ponselnya bergerak turun sedikit lebih cepat dari biasanya.
Merah. Tipis. Lalu lebih merah. Dan— LOSE.
Satrio mengerutkan dahi, “Yah, oke…oke…santai.”
Udin pernah bilang padanya bahwa Trading itu biasa naik turun, yang perlu diingat adalah jangan emosional. Maka Satrio mencoba tenang. Ia bahkan tersenyum kecil untuk menenangkan dirinya sendiri, “Namanya juga pasar. Kadang baik, kadang kayak mantan.”
Ia membuka posisi lagi. Dengan nominal kecil, karena memangnya tujuannya ingin menebus kerugian. Candle stick bergerak. Turun sedikit, memunculkan candle stick merah. Lalu naik sedikit, memunculkan candle stick hijau. Lalu—LOSE.
Senyumnya mulai menghilang, “Oke...hari ini market lagi kurang tidur mungkin.”
Ia menelan ludah. Membuka posisi lagi. Kalah lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak dua minggu terakhir, dadanya mulai terasa tidak nyaman. Ini kekalahannya yang ketiga…Ia belum pernah kalah tiga kali berturut-turut…
Rasa tidak terima mulai menggelayut di kepala namun untungnya dia bisa menahan diri ketika ada pesan masuk dari Nara yang membalas chatnya tadi siang,
Oke pa. Scan dan kirim ke aku paspornya kalau sudah ada
Satrio berhenti sejenak, menatap jumlah nominal pada layar ponsel…uangnya tak lagi sebesar sebelumnya tapi setidaknya masih cukup untuk dijadikan modal trading berikutnya. Hanya saja, dia tidak yakin targetnya bisa tercapai dengan minus macam ini…dia sungguh tidak butuh kesalahan-kesalahan ini…namun akal sehatnya masih mengingatkan seberapa pun berkurang, uangnya saat ini adalah jembatan untuk pergi menemui Nara.
Malam itu ia tidur dengan grafik merah masih menempel di pelupuk mata. Bahkan ketika memejamkan mata, yang ia lihat bukan lagi wajah Nara, melainkan candlestick yang terus bergerak naik turun.
***
Setelah menyelesaikan tarikan online hari itu, Satrio mampir ke warung untuk mengisi perut. Beberapa pengemudi taksi online tengah duduk-duduk di sana seraya menikmati makan malam. Dan sudah diduganya, Udin ada di dalam warung tersebut. Temannya itu tengah duduk-duduk ditemani segelas kopi dan rokok.
“Weeeitss, horang kaya mampir. Bagaimana kabar paspor? Aman?”
“Untung gue ada uang trading…jadi gue bisa bayar di tanggal kering begini.”
“Baguslah kalau begitu.”
“Yang nggak bagus tradingan gue.”
“Kenapa?”
Satrio menggeleng, “Kemarin gue lose terus.”
“Normal,” Udin berkata santai sambil merokok. “Market lagi jelek.”
“Ini turun terus,” Satrio menunjukkan layar ponselnya.
“Ya sabar…”
Saldonya memang masih cukup besar, masih jauh di atas modal awal, tapi angka hijau yang dulu membuatnya bersemangat mulai terkikis sedikit demi sedikit. Dan anehnya, kehilangan keuntungan terasa jauh lebih menyakitkan daripada tak pernah punya keuntungan sama sekali.
“Besok pasti balik,” kata Udin.
Satrio mengangguk pelan. Ia ingin percaya ucapan Udin tentang market yang akan mengembalikan uangnya. Setelah tiga kali Lose rasanya trading jadi tidak semudah awalnya. Tapi tetap, dia harus benar-benar percaya…karena kalau tidak maka semua mimpinya mulai goyah.
***
Tidak seperti kata Udin, hari esok tidak baik. Justru lebih buruk…
Kerugiannya tidak balik. Kerugian justru berubah jadi semakin besar.…
Pagi itu hujan turun deras. Satrio parkir di bawah pohon dekat minimarket sambil menatap grafik yang bergerak liar seperti orang kesurupan.