Pagi itu kantor terasa terlalu sunyi. Sunyi dalam arti yang sesungguhnya—kosong. Tak tampak seorang pun di gedung itu. Pandemi memang belum juga berakhir. Apa yang dulu dijanjikan pemerintah bahwa pandemi akan berlalu tahun sebelumnya ternyata jauh panggang dari api. Harapan tinggal harapan. Bahkan, keadaan itu membuat perusahaannya terus terpuruk.
Di awal pandemi, mereka sempat merasa beruntung. Selama hampir tiga bulan tidak masuk kantor tapi gaji tetap dibayarkan karena seluruh roda bisnis berhenti akibat kebijakan lockdown. Namun kebahagiaan itu ternyata hanya sementara. Setelahnya, perusahaan semakin sulit mendapatkan klien baru. Klien-klien lama satu per satu mundur, bahkan ada yang gulung tikar karena tak mampu bertahan menghadapi kondisi ekonomi yang terus memburuk.
Kantor itu kini kehilangan denyut kehidupannya.
Tak ada lagi tawa keras dari meja marketing.
Tak ada lagi obrolan tentang rencana liburan.
Tak ada lagi ajakan makan siang bersama.
Dan pagi itu, Satrio tahu sesuatu akan terjadi.
Ia sudah merasakannya sejak semalam ketika menerima email singkat:
Pak Satrio, mohon hadir besok pukul 09.00 WIB di ruang HRD.
Kalimat yang sederhana. Namun cukup untuk membuat isi perutnya serasa jatuh.
Sejak perusahaan memasuki masa sulit, manajemen terus menjalankan program "efisiensi". Semua orang tahu arti dipanggil HRD secara mendadak. Diam-diam, setiap karyawan berdoa agar giliran mereka tidak pernah tiba.
Ruang HRD berada di ujung lorong. Pintunya tertutup. Satrio menarik napas panjang, lalu mengetuk pelan.
"Masuk."
Suara itu terdengar terlalu ramah. Justru karena itulah dadanya semakin sesak.
Di dalam ruangan ada dua staf HRD perempuan yang mengenakan masker. Ketika Armand muncul dari balik meja, Satrio langsung tahu… kariernya sudah selesai.
"Silakan duduk, Sat," kata Armand pelan.
Satrio duduk perlahan. Tangannya terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah lama dimatikan demi menghemat biaya listrik.
Armand membuka percakapan dengan nada formal yang terdengar seperti naskah yang telah dihafal, "Pertama-tama kami ingin mengucapkan terima kasih atas kontribusi lo selama bekerja di perusahaan ini...."
Kalimat itu langsung menghantam dadanya. Tak pernah ada kabar baik yang diawali dengan ucapan terima kasih seperti itu. Satrio menundukkan kepala. Ucapan Armand berikutnya terdengar seperti suara dari dasar air.
Pandemi...
Penurunan operasional...
Efisiensi...
Perampingan...
Restrukturisasi...
Kata-kata yang terdengar rapi dan profesional.
Padahal maknanya sederhana.
Perusahaan tidak lagi mampu mempertahankan hidupmu di dalam sistem mereka.
Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, kamu harus pergi agar perusahaan tetap bertahan. Demi menyelamatkan kapal, sebagian penumpang harus diturunkan.
"Enggak apa-apa, Pak," ujar Satrio pelan. Suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang. Padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang sedang runtuh sedikit demi sedikit.