Bekerja tanpa henti.
Tidak ada pilihan lain bagi Satrio selain melakukan itu. Austria terasa makin jauh sementara seluruh uangnya telah habis, apalagi waktu terus berjalan seperti debt collector yang tidak peduli orang sedang susah. Jadi pagi itu, setelah sarapan dan minum kopi sachet tanpa gula, Satrio menatap dirinya sendiri di cermin kecil kontrakan. Wajahnya kusut. Matanya cekung. Namun ada sesuatu yang keras di sana. Sebuah kenekatan.
“Kalau hidup mukul elu…” gumamnya pelan, “…ya pukul balik.”
Ia mengambil kunci mobil. Dan mulai hari itu, hidup Satrio berubah menjadi: jalan, penumpang, notifikasi order... lalu mengulanginya lagi. Jalan, penumpang, notifikasi order...
HARI PERTAMA…
Hari pertama masih terasa biasa. Ia mulai menarik sejak pukul lima pagi. Suasana kota masih dingin. Jalanan belum terlalu ramai. Udara subuh masuk lewat kaca mobil yang sedikit terbuka.
Order pertama: mengantar pegawai bank.
Order kedua: mengantar anak kuliah.
Order ketiga: mengantar ibu-ibu yang ngomel sepanjang jalan karena mantan suaminya menikah lagi dengan perempuan yang menjadi instruktur yoganya.
Satrio mendengarkan sambil mengangguk-angguk seperti psikolog gratis,“Laki-laki itu kalau sudah tua bukannya sadar diri, malah beli sepeda lipat sama selingkuhan!”
Satrio menahan tawa. Dalam hati ia berpikir, minimal mantan si ibu masih punya uang beli sepeda. Setidaknya inilah hiburan yang bisa didapatnya ketika banting tulang. Setiap kali mendapat penumpang yang doyan mengobrol, apalagi ditambah kemacetan lalu-lintas kota yang tiada tara, maka ada beberapa bagian dalam kehidupan sang penumpang yang akan terungkap.
Hari pertama berakhir pukul dua dini hari…Satrio pulang dengan mata merah dan tubuh seperti habis diperas. Namun ketika melihat jumlah penghasilannya hari itu— ia tersenyum. Lumayan. Tidak besar memang, bila dibandingkan dengan yang didapatnya saat trading, tapi setidaknya ada harapan kecil. Dan orang putus asa bisa bertahan hidup hanya dengan harapan sekecil apa pun.
HARI KEDUA…
Satrio bangun jam lima pagi, seperti halnya kemarin…alarm ponselnya menjerit nyaring layaknya orang yang berteriak panik karena ada kebakaran. Dia sama sekali lupa membeli makanan untuk sarapan sehingga dia buru-buru minum air putih sekadar mengisi perut. Yang ada di kepalanya saat itu hanya menyalakan aplikasi taksi online sesegera mungkin untuk mengetahui apakah ada orderan masuk…dan ternyata memang ada…
Orderan itu berasal dari suatu tempat yang berjarak hanya dua blok dari rumah kontrakannya, dan tujuannya adalah bandara. Ini sungguh berkah di pagi hari karena order menuju bandara merupakan salah satu order paling diincar para pengemudi online, apalagi kalau bukan karena imbal hasilnya lebih besar dari orderan biasa.
Jadi setelah mencuci muka pria itu memacu mobil menuju lokasi penjemputan untuk kemudian mengantar seorang gadis muda berpakaian seragam sebuah maskapai tertentu. Dari seragamnya gadis itu pasti pramugari. Setelah mengobrol dalam perjalanan Satrio berhasil mendapatkan nomor ponsel gadis itu karena sang pramugari memberi tahu bahwa dia sering kesusahan mendapatkan taksi online dengan cepat ke rumahnya sementara dia harus jalan ke bandara pada jam seperti ini hampir tiap hari.
Order kedua: mengantar pasangan yang baru pulang bulan madu dari bandara.
Order ketiga: mengantar anak sekolah