Ini hari ketiga sejak Satrio tumbang…
Perasaan kalah itu belum juga pupus dari hatinya. Kini rasa itu seolah menembus hingga ke bagian terdalam dirinya, membuat akal sehatnya mati rasa. Yang tersisa hanyalah jeritan hati yang diam-diam memohon kepada Tuhan akibat kebodohannya mengandalkan trading demi mendapatkan uang dengan cepat..
Sejujurnya, dia pernah melihat satu video yang memberi tahu bahwa trading itu judi. Hanya saja, kemenangan demi kemenangan membutakan matanya sehingga pesan itu tak dihiraukannya. Barulah setelah ia terbentur tembok, dengan kehilangan seluruh uangnya, dia baru mengerti bahwa itu sebenarnya adalah peringatan dari Tuhan. Dan bukannya mencari pertolongan dari Yang Kuasa, ia justru berusaha memperbaikinya dengan caranya sendiri dengan cara sendiri…dengan kekuatan sendiri…yah, inilah akibatnya…
“Ampun Tuhan… ampun… aku nggak tahu lagi harus bagaimana… beri aku jalan… beri aku kekuatan…”
Bisikan halus dalam dirinya berkata, supaya ada jalan, dia harus kuat dulu…dan supaya kuat, dia harus sehat dulu…
Demamnya sedikit mereda walaupun rasa mual dan pening masih terasa di kepala. Sesuatu yang memang tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Mau tidak mau dia harus pergi ke klinik untuk berkonsultasi dengan dokterr, agar dia cepat sembuh dan bisa kembali narik lagi….
Satrio mengambil ponselnya. Dia sama sekali tidak menengok aplikasi pengemudi onlinenya karena rasa tidak nyaman yang menjangkit, disertai beban yang begitu berat, namun hari ini dia perlu membukanya dan itu membuat matanya berkunang-kunang…
Hasil dari ‘mengalong’ seminggu lalu memberinya penghasilan yang lumayan, disertai bonus trip dari penumpang atau perusahaan taksi onlinenya, tapi itu sama sekali jauh dari target nominal ke Austria. Sembilan puluh juta…sementara yang ada padanya hanya tiga juta… yang sebagian harus dicairkannya untuk membayar dokter.
Apa boleh buat, ini akibatnya karena tak pernah mengurus BPJS, tak ada asuransi yang bisa membantu tanggungannya di kondisi macam ini. Dia punya asuransi kesehatan dan BPJS ketika masih bekerja namun kehilangan semuanya setelah dipecat, dan mengambil asuransi pribadi terasa berat baginya sebagai pengemudi taksi online yang berpenghasilan tidak menentu.
Siangnya Satrio memaksa diri pergi ke klinik. Sementara menunggu antrian dokter tiba-tiba ada seseorang menepuk bahunya. Ternyata itu Toni, dia sedang bersama sang istri yang perutnya tengah hamil enam bulan.
“Elu ngapain di sini?” tegur Toni.
“Ke dokter, gue nggak enak badan...”
“Gila, muka elu pucet banget. Pantes nggak keliatan tiga hari ini.”
“Lagi kontrol?” Satrio bertanya.
“Iya, bang. Alhamdulillah sehat,” istri Toni menjawab.
“Nanti sore gue mampir ke kontrakan elu deh,” kata Toni. “Gue anter bini dulu ya.”
“Oke,” Satrio mengangguk.
***
Sorenya terdengar ketukan pintu membangunkannya dari tidur. Bukan hanya ketukan tapi juga panggilan nyaring yang membuat Satrio tahu siapa yang datang, “Sat! Sat!”
Satrio membuka mata pelan. Kepalanya berdenyut. Masih di bawah pengaruh obat dia kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya. Toni berdiri di luar sana sembari membawa plastik berisi bubur.
“Ya Tuhan,” Toni langsung mengernyit. “Muka lo kayak korban kiamat.”
Satrio tertawa lemah, “Dasar lebay.”
Toni masuk tanpa menunggu izin. Kontrakannya masih dalam keadaan berantakan. Baju menumpuk, kebanyakan baju bekas yang belum sempat dicuci, berpadu dengan gelas kopi di mana-mana. Kusutnya kontrakan itu selaras dengan wajah Satrio yang terlihat seperti orang yang sudah terlalu lama bertengkar dengan hidup.