Menggandeng Langkah Terakhirmu

Lewi Satriani
Chapter #12

PROPERTI DEBBY

Perumahan itu berdiri di kawasan elit yang membuat Satrio otomatis mengurangi volume napasnya. Gerbangnya tinggi. Satpamnya memakai seragam rapi seperti pengawal pejabat. Jalan di dalam kompleks bersih mengilap tanpa lubang sedikit pun—sesuatu yang bagi warga Indonesia sudah hampir terasa seperti keajaiban nasional.

Mobil Satrio melambat ketika melewati deretan rumah besar dengan pagar artistik dan taman yang lebih luas daripada kontrakannya. Ia sempat melirik dashboard mobilnya yang mulai retak di beberapa bagian lalu tertawa kecil sendiri,

“Tenang,” gumamnya pada mobil tua itu. “Kita cuma bertamu. Bukan mau beli.”

Satpam memeriksa namanya untuk memastikan, sebelum akhirnya membuka portal otomatis. Ketika mobilnya masuk, Satrio merasa seperti karakter figuran yang nyasar ke dunia orang kaya. Rumah Debby berada di blok bagian belakang. Memang tidak sebesar rumah-rumah di sudut kompleks yang tampak seperti hotel mini, tetapi tetap jauh di atas definisi "rumah biasa" menurut ukuran hidup Satrio.

Rumah itu berbentuk bangunan dua lantai. Cat putih gading. Jendela-jendela besar dengan bingkai hitam elegan. Ada pohon kamboja kecil di halaman depan dan lampu taman bergaya Eropa yang bahkan mungkin harga satuannya setara motor bekas.

Dimatikannya mesin mobil lalu duduk sejenak di belakang kemudi sambil memandangi rumah itu. Ia tak habis piker karena pasangan yang memiliki rumah sedemikian mewah bisa cerai. Selama ini ia selalu mengira perceraian terjadi karena kesulitan finansial, tapi hal itu jelas bukan penyebab utama dari perpisahan pemilik rumah tersebut. Nampaknya uang memang bisa membeli rumah yang nyaman, tapi tidak otomatis membuat orang betah tinggal bersama di dalamnya.

Pintu rumah dibuka oleh Toni. Mereka memang sudah janjian pagi itu setelah Toni mengirimkan shareloc rumah adiknya di Tangerang. Begitu masuk ke rumah, Satrio mendapati seorang perempuan sedang duduk di ruang tamu. Melihat Satrio masuk bersama Toni, wanita itu berdiri dan menyalami Satrio dengan sikap anggun.

Wanita itu berusia pertengahan tiga puluhan, memakai kaus longgar abu-abu dan celana rumahan hitam. Berkulit putih, seperti halnya Toni karena keduanya punya keturunan chinesse, dengan rambut diikat asal. Wajahnya manis dengan tatapan yang sendu, walaupun itu kontras dengan kelopak mata yang lebar. Sesuatu yang berbeda dari Toni yang bermata sipit, padahal mereka dari gen yang sama. Mungkin itu hasil operasi plastik, begitu pula halnya dengan pipinya yang tirus. Bukan tipe perempuan yang sesuai dengan seleranya – dalam artian bahwa dia tidak ingin memiliki gadis dengan perawatan yang high maintenance seperti Debby – tapi orang asing kadang punya definisi kecantikan yang berbeda dengannya.

“Kenalin Deb, ini teman Kokoh, Satrio namanya.”

“Halo, Mas. Salam kenal,” Debby mengangguk. Suara Debby lembut, tapi dingin. Bukan dingin sombong. Lebih seperti seseorang yang sedang kehabisan tenaga untuk bersikap hangat. “Masuk, yuk!”

Begitu masuk ke ruang tengah, Satrio langsung mencium aroma rumah yang bersih dan mahal. Aroma diffuser lavender bercampur dengan hawa dingin pendingin ruangan. Lantainya marmer krem mengilap. Bila ruang tamunya berbentuk ruangan luas yang berisi sofa abu-abu muda berbentuk L dan meja kaca hitam di tengah, ruang tengahnya bahkan lebih mewah lagi…di salah satu sisi ruangan berdiri piano putih. Piano sungguhan, bukan keyboard karaoke hajatan.

Satrio menatapnya dengan kagum lalu bertanya, “Bisa main piano?”

Debby menggeleng, “Enggak. Itu mantan suami saya yang mau.”

Satrio mengangguk pelan, membatin dalam hati kalau orang kaya memang beda. Beli barang jutaan hanya untuk jadi dekorasi. Di rumah kontrakannya, kursi plastik saja kalau retak masih dilem pakai lakban.

Rumah itu benar-benar terasa seperti katalog interior yang hanya dilihatnya di majalah atau film. Dapur modern dengan kitchen set putih mengilap. Kulkas dua pintu sebesar lemari. Ruang makan dengan lampu gantung kristal. Lalu ruang keluarga di belakang dengan televisi yang ukurannya lebih besar daripada jendela kontrakan Satrio.

“Semua ikut dijual?” tanya Satrio.

“Iya.”

“TV juga?”

“Iya.”

“Piano?”

Lihat selengkapnya