“Bagaimana? Sudah ada peminat?” Toni bertanya kepada Satrio dua hari kemudian, ketika dia tengah makan siang di warung tempat mangkal biasanya.
“Belum!” Satrio menggeleng. “Kan elu udah nanya itu kemarin.”
“Gue cuma memastikan…”
“Kok gue berasa elu kayak bos gue ya…” Satrio mengernyit.
Toni malah ketawa, “Sabarlah, gue kan kepingin proyek kita sukses.”
“Proyek apaan, sih?” Udin menimbrung. “Kok gue nggak diajak-ajak.”
“Ini proyek beneran,” Toni menimpali dengan ketus. “Bukan judi yang bikin temen hilang uang.”
“Jangan diungkit-ungkit, lah! Kan gue hilang uang juga.”
“Elu mending hilang duit. Satrio sampai sakit. Duitnya hilang dua kali buat berobat.”
“Sudahlah,” Satrio menengahi.
“Makanya gue kasih proyeknya ke dia,” Toni menyela. “Nolong temen itu yang jelas aja proyeknya. Lagipula Satrio sekarang prioritas karena kebutuhan dia jelas, dia mau ke Austria menghadiri nikahan anak.”
“Lah, emang gue pengen kaya bukan prioritas. Kalau gue punya banyak duit, kalian juga yang bakal gue traktir,” komentar Udin.
“Dibilang jelas gue bingung juga,” kata Satrio. “Ini kerjaannya kayak…gue merasa gue broker aja…lagian gue bukan agen properti profesional dan daftar kontak ponsel gue sudah habis dihubungi semua. Tidak ada satu pun yang sedang mencari rumah.”
“Yakin elu nggak punya daftar yang lain?” ucap Toni memancing.
“Bagaimana dengan elu sendiri? Elu nggak nawarin ke siapa-siapa?”
“Gue udah bilang kalau gue nggak punya banyak kenalan kaya. Makanya gue gandeng elu supaya elu bantu ngerjain,” Toni menjelaskan.
“Lah, bener dong…ini sama aja gue jadi kuli, elu mandornya…” Satrio berkata sebal.
“Ya, emang apa yang salah kalo gue jadi mandornya? Lagian yang punya barangnya kan adik gue,” Toni cengar-cengir. “Lagian kalau gue nggak berhasil yakinkan dia, bisa-bisa dia minta agen properti lain yang jualin rumahnya…batal deh kita dapat honornya.”
Meskipun sebal mendengar penjelasan itu Satrio hanya mengangguk-angguk kecil, itu ada benarnya. Masalahnya, ia cuma mantan pegawai kantor yang sekarang narik online dan kebetulan putus asa butuh uang hingga coba-coba jualan rumah. Dirinya bukan agen properti profesional yang punya basis data pembeli potensial. Jadi setelah semua nama yang dia tahu mengatakan tidak untuk rumah yang dia tawarkan, Satrio tidak tahu lagi harus kemana.
“Ngomong-ngomong, kalian pada tahu nggak sistem komunikasi kita ke pelanggan baru ditutup sama perusahaan.”
“Seriusan? Pantes kemarin penumpang-penumpang menghubungi gue lewat aplikasi, bukan ke nomor gue,” kata Toni.
“Yang seru itu alasan di balik perubahan sistemnya, dong,” Udin berkata dengan mata melebar. Baik Toni atau Satrio sudah hafal kalau itu adalah ekspresi yang biasa dilakukan Udin sebelum bergunjing.