Apa yang terjadi keesokan harinya setelah pertemuan di rumah Debby berlangsung begitu cepat. Terlalu cepat sampai Satrio merasa seperti tertinggal di belakang situasi. Pengacara Mr. Lim mulai menelepon notaris – setidaknya begitulah dugaan Satrio dari percakapan yang ia dengar – karena mereka membicarakan soal jadwal pertemuan. Dokumen dibuka. Tanda tangan persetujuan dilakukan. Transfer DP diselesaikan saat itu juga. Debby beberapa kali terlihat seperti masih belum percaya rumah itu benar-benar laku. Sedangkan Satrio—ia duduk sambil diam-diam memandangi semua itu seperti orang miskin yang tidak sengaja masuk episode Crazy Rich Asians.
Orang kaya memang beda. Mereka memindahkan uang lebih cepat daripada dirinya memutuskan membeli sepatu. Ketika semuanya selesai hari itu, Mr. Lim berdiri lalu menepuk bahu Satrio ringan, “Thank you, Mister Satrio.”
Satrio cepat berdiri,“Sama-sama.”
“You help me find good house,” Mr. Lim tersenyum. “Dengan lingkungan yang bagus juga. Nice. Lusa mungkin saya sudah pindah kemari.”
“Anda sudah tidak sabar ya…”
“Banyak yang harus saya lakukan. Saya tidak bisa buang-buang waktu.”
“Berarti penyelesaian pembayaran akan dilakukan besok?”
“Setelah pengacara saya dan notarisnya menyelesaikan dokumen jual-beli mereka.”
“Makasih, Mr Lim.”
“Wah, saya yang harusnya say thank you!” balas Mr Lim. Kalimat itu sederhana, entah kenapa terasa hangat. Sebelum pergi, Mr. Lim bahkan sempat berkata santai, “Next time kamu datang ke Malaysia, contact me.”
Satrio tertawa kecil, “Insyaallah...” padahal dalam hati ia berpikir: Saya mau ke Austria saja hampir bangkrut.
Setelah Mr Lim berlalu, Toni keluar ditemani Debby dan pengacara Mr Lim. Mereka bersalaman sebelum akhirnya berpisah pula. Toni menggosok-gosok tangannya puas, “Sekarang kita tinggal tunggu pelunasan Mr Lim.”
“Besok dia janji akan bayar sisanya,” sahut Satrio.
“Begitu saya terima transferan, saya akan kasih bagian ke abang berdua,” kata Debby. Wanita itu lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman. “Makasih ya, saya nggak nyangka rumah ini bisa laku secepat ini…tanpa basa-basi dan hampir nggak ditawar sama sekali.”
“Sudah gue bilang, teman gue ini jago,” Toni menepuk-nepuk bahu Satrio dengan bangga.
“Semoga uangnya nanti bisa bantu abang untuk ketemu anak di Austria,” ujar Debby.
Satrio mengangkat alis dan Toni menyela, “Gue sempat cerita ke Debby soal undangan pernikahan anak elu. Nggak apa-apa, kan?”
“Nggak apa-apa,” Satrio menggeleng. “Santai aja.”
Ia mengira hari itu sudah memberinya cukup banyak kejutan. Ia yakin Mr. Lim akan menunda pembayaran, seperti banyak pengusaha yang pernah dikenalnya semasa masih bekerja—orang-orang yang terbiasa melunasi kewajiban pada menit-menit terakhir.