Satrio selalu berpikir bahwa kalau suatu hari ia punya uang banyak, hidupnya akan berubah drastis. Ia akan menjadi lebih tenang. Lebih bijaksana. Lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Lebih berwibawa. Kurang lebih seperti tokoh-tokoh sukses di seminar motivasi yang fotonya sering muncul di iklan media sosial.
Ternyata tidak…yang dia bayangkan jauh dari kenyataan…
Keesokan harinya setelah selesai mengurus semua visa dan keluar negeri, setelah honor seratus juta rupiah di rekeningnya masih tersisa sepuluh juta, dia bersama kedua temannya justru berdiri di depan sebuah toko perlengkapan memancing terbesar di Radio Dalam sambil memperdebatkan hal paling tidak penting di dunia.
"Kalau ikan lihat warna senar nggak,sih?" tanya Udin.
Satrio mengangkat bahu, "Aku bahkan nggak yakin ikan peduli."
"Tapi yang ini lebih mahal," Toni memprotes.
"Itu karena yang bikin bukan ikan," sahut Udin sekenanya.
Toni terdiam, "Iya juga."
Mereka saling memandang. Lalu tertawa dan bersama-sama masuk ke dalam toko.
Semua berawal ketika Toni menelepon pagi-pagi, "Sat."
"Apa?"
"Kita harus merayakan."
"Apa?"
"Lo kan dapat seratus juta."
Satrio langsung mengoreksi, “Duit gue sisa sepuluh juta. Semua sudah gue pakai buat ngurus segala sesuatu ke Austria.”
"Hidup lo dari kemarin isinya visa, Austria, dokumen, rekening koran, dan trauma. Kita perlu bersenang-senang," ucap Toni. “Lagian kan masih ada sepuluh juta. Masih banyak itu uang elu. Masih bisa lah kita patungan untuk merayakan.”
Satrio sebenarnya ingin menolak. Namun sudah berbulan-bulan hidupnya berisi perjuangan. Lagipula Toni berjanji untuk ikut membayar hingga dia merasa beban pengeluarannya tak akan terlalu berat. Maka untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, ia mengucapkan kalimat yang jarang keluar dari mulutnya, "Ya sudah."
Akhirnya mereka melakukan hal yang paling masuk akal menurut versi mereka. Pergi ke toko pancing. Padahal tidak ada satu pun dari mereka yang hobi memancing. Dan itu juga dengan mengajak serta Udin, yang membuat Satrio keheranan.
“Ngapain dia ikutan juga?” Satrio berbisik pada Toni ketika melihat kehadiran Udin. “Dia kan nggak ikut jualan rumah.”
“Dia kan temen kita juga. Nggak apa-apalah sekali-kali ajak dia merasakan jadi orang kaya.”
“Terus…kenapa mancing? Elu doyan mancing?”
“Nggak, sih! Si Udin sih yang hobi mancing,” jawab Toni. “Dan gue lihat di TV orang kaya itu suka mancing.”