Mereka berkendara keliling kota seperti tiga remaja yang baru memenangkan undian. Kesenangan menaiki mobil mewah ternyata hanya berlangsung sekitar lima belas menit pertama, sisanya mereka harus memperhatikan dengan seksama tekanan pedal gas, terlalu dalam sedikit menginjak pedal gas bisa berakibat mobilnya meloncat ke depan dan berlari dengan kecepatan menggila, tanpa jeda tarikan yang biasa terasa pada mobil-mobil pada umumnya.
Tadinya Satrio membayangkan Toni akan mengajak mereka ngebut di jalan tol untuk merasakan laju kendaraan super mewah ini di puncak kecepatannya. Nyatanya mobil sport itu berjalan dengan kecepatan yang hampir sama dengan angkot di jalanan ibu kota yang macet parah di jam pulang kerja.
Para pengemudi di mobil lain mungkin saat ini sedang menatap ke arah mobil mereka, mungkin membayangkan pemiliknya seorang pengusaha sukses tapi dengan sikap norak, padahal di dalam mobil itu ada tiga pria paruh baya yang sedang berdebat soal promo ayam goreng.
"Belok ke sana!" kata Toni
"Ngapain?"
"Ada diskon," jawaban Toni bikin Satrio keki.
"Kita naik mobil miliaran untuk beli ayam diskon?"
"Justru supaya hemat…" sahut Toni. “Kan gue harus bayar bensin mobil habis ini.”
Mereka tertawa sepanjang perjalanan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Satrio merasakan sesuatu yang nyaris terlupakan. Ringan. Tidak ada bayangan trading untuk kejar setoran. Tidak ada rasa takut soal visa. Tidak ada kegelisahan soal Austria. Juga tidak ada bayangan narik taksi online demi mendapat bonus tambahan dan melunasi hutang kredit mobil. Semua itu lenyap…hanya tiga sahabat yang sedang menikmati hidup. Meskipun dengan cara yang sangat tidak elegan.
“Bagaimana setelah ini kita ke Puncak?” usul Toni yang seperti biasa, out of the box.
“Puncak? Malam-malam begini?” Satrio mengangkat alis.
“Kenapa nggak? Hari kerja pasti nggak ada yang ke Puncak. Apalagi sudah malam begini. Kita ngebutlah kesana.”
“Ide bagus!” kata Udin. “Dari tadi cuma jalan di kemacetan. Gue pengen ngerasain ngebut pake mobil keren.”
“Gaslah kalau gitu,” Satrio akhirnya tertawa.
“Pegangan yang kencang…” ujar Toni.
Mobil sport berwarna merah itu pun meninggalkan jalur jalanan kota menuju tol yang mengarah ke Puncak. Mesin mobil meraung, diikuti knalpot yang menggema ke segala penjuru jalanan ketika mobil yang dipacu Toni mulai meninggalkan mobil-mobil lain dengan mudahnya.
Menjelang tengah malam ketiga sahabat itu duduk di sebuah bukit kecil menghadap lampu kota. Ketiganya duduk di atas kap mobil sport dengan minuman kaleng di tangan, sementara box makanan yang tadinya berisi nasi dan ayam goreng sudah licin tandas, menikmati temaram kota yang dihiasi ribuan lampu berkelap-kelip.
Baik Satrio dan Toni mengenang kegilaan mereka selama seminggu ini…
Mobil sport sebentar lagi dikembalikan…
Joran pancing mahal belum pernah dipakai lagi…
Sertifikat kelas barista bahkan mungkin tidak akan berguna seumur hidup.
Namun keduanya tidak menyesal.
Toni menenggak kaleng kopi dingin, "Lumayan juga, ya."
Satrio mengangguk, "Lumayan."
“Bukan lumayan lagi. Ini mah gokil berat. Belum pernah gue makan ayam seenak ini,” Udin menimbrung, membuat kedua temannya tersenyum-senyum. Memberikan kesempatan buat teman untuk menikmati suatu kemewahan ternyata sangat menyenangkan. Satrio yakin Udin akan mengingat hari ini seumur hidupnya, apalagi mereka sudah melakukan foto bersama dan foto itu yang menggantikan foto profile di HP Udin.
“Elu mau tahu yang lebih gokil dari ini?” tanya Toni.
“Jangan bilang elu mau ugal-ugalan lain setelah ini,” kata Satrio.
“Apa pun itu gue siap ikut serta,” ujar Udin.
“Bukan…bukan…ini yang gue lakuin sebelum muter-muter nggak jelas sama kalian naik ini,” kata Toni menepuk-nepuk kap mobil sport.
“Apaan itu?”
“Elu harus lihat wajah si penumpang waktu gue jemput pake mobil ini.”
Satrio terbelalak, “Serius? Jadi seharian elu narik pake mobil sport?”
Kedua temannya bertepuk tangan dan tertawa-tawa ketika Toni menunjukkan beberapa foto yang diambil dari ponsel, foto dirinya bersama penumpangnya di dalam mobil dengan interior yang mereka kenali sebagai mobil sport yang mereka tumpangi sesorean ini.
“Elu emang edan,” Udin tertawa. “Pasti puas banget dah mereka nyobain mobil mahal.”
“Kebayang deh wajah penumpang-penumpang elu. Pasti mereka pada surprise dijemput mobil macam gini,” komentar Satrio.
“Sesekali boleh, dong!” kata Toni lalu berpaling pada Satrio. "Kalau nanti Austria beres, kita harus bikin perayaan lagi."