Menggandeng Langkah Terakhirmu

Lewi Satriani
Chapter #18

PESAN TAK BERBALAS

Malamnya Toni dan Udin datang ke kontrakan. Tia masih juga belum membalas chat-nya. Satrio sudah sampai pada tahap mengikhlaskan bahwa uangnya memang hilang selamanya, bersama keberadaan Tia yang entah di mana rimbanya.

Begitu melihat wajah Satrio, keduanya langsung mengerti. Tidak perlu penjelasan. Tidak perlu kabar. Tidak perlu bukti. Kadang wajah seseorang sudah cukup menjelaskan bahwa dunia baru saja menghancurkannya.

Toni dan Udin duduk pelan. Udin membuka pembicaraan, "Kita baru dengar heboh Tridana Tour dari radio tadi sore. Itu travel yang elu pakai buat ngurus Austria, kan?"

"Iya," jawab Satrio pelan.

"Masyaallah..." Udin menggeleng-geleng tak percaya.

"Semua?" Toni bergantian bertanya.

Satrio mengangguk, "Semua."

Keduanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Mereka hanya memandang sahabatnya dengan iba, melihatnya kembali tertimpa musibah.

"Sudah lapor polisi?" tanya Udin.

Satrio menggeleng, "Buat apa? Korbannya begitu banyak. Gue pasti jadi nomor kesekian yang nggak bakal keurus juga."

"Masih ada kemungkinan uangnya balik kalau polisi berhasil nangkap bosnya."

Satrio tertawa pelan. Tawa yang nyaris tak terdengar. Tawa seseorang yang sudah terlalu sering mendengar harapan palsu, "Kita sama-sama orang Indonesia, Din."

Toni tidak menjawab. Mereka bertiga sama-sama tahu bahwa kasus seperti ini sering berakhir dengan konferensi pers, menjadi berita televisi, disertai janji penyelidikan, lalu perlahan menghilang ditelan waktu. Kalaupun pelakunya berhasil ditangkap, uang para korban belum tentu kembali utuh seperti yang mereka harapkan.

"Seandainya tahu bakal begini, gue nggak bakal hambur-hamburin uang gue," ujar Toni lirih. "Jadi gue bisa pinjamin uang ke elu. Sekarang uang gue tinggal sedikit, sisanya sudah gue kasih ke bini."

"Nggak apa-apa, Ton."

"Elu tahu sendiri kan bini gue. Duit yang sudah masuk rekening dia nggak mungkin gampang keluar lagi."

"Sungguh, nggak apa-apa, Ton. Lagian itu uang elu. Gue juga nggak enak kalau dipakai buat keperluan gue."

Satrio hanya tersenyum tipis. Di balik senyum itu, ada rasa haru yang sulit disembunyikan. Dalam keadaan seperti ini, kedua sahabatnya masih mau datang menemaninya.

Setelah itu Satrio tidak ingin bicara lagi. Ia hanya ingin sendirian. Namun Toni dan Udin juga tidak kunjung pulang. Mereka tetap bertahan di kontrakan kecil itu. Suasana menjadi canggung ketika hujan mulai turun perlahan di luar. Air menetes dari atap seng. Malam berjalan tanpa peduli pada kesedihan siapa pun.

Satrio duduk di kursi plastik sambil memegang ponselnya. Kedua temannya hanya menemani dalam diam. Mereka tahu tidak ada nasihat yang bisa mengurangi luka Satrio. Dalam keadaan seperti ini, semua kata-kata hanya terdengar hampa.

Lelaki itu membuka kembali foto undangan pernikahan Nara yang masih tersimpan di galeri ponselnya. Di bagian bawah undangan itu masih tertulis kalimat yang dulu membuatnya rela berjuang sejauh ini.

Aku ingin Papa datang.

Kalimat sederhana.

Namun kini terasa seperti sesuatu yang berada di ujung dunia.

Untuk pertama kalinya sejak menerima undangan itu, Satrio mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

Mungkin memang aku tidak seharusnya datang.

Mungkin hidup sudah memberi jawaban sejak awal.

Lihat selengkapnya