Si gila Toni memang pernah memberi usul padanya untuk mencari cewek yang mau membayarinya pergi ke Austria namun Satrio tak menyangka cewek yang akan mengajaknya justru adik Toni sendiri. Oleh karena itu dia nyaris tersedak kopinya begitu mendengar penawaran Debby.
Ruangan mendadak terasa sunyi, bahkan suara hujan seperti menghilang sesaat. Satrio mengira dirinya salah dengar, "Apa? Bagaimana?"
"Kalau masalahnya uang, aku bisa bantu."
Satrio langsung tertawa kecil, bukan karena lucu melainkan karena terlalu kaget, "Debby...kamu serius?"
"Dengar dulu," perempuan itu mengangkat tangan. "Saya tahu ini terdengar aneh."
"Sedikit."
"Sedikit?"
"Ya. Sedikit sekali. Cuma sekitar sembilan puluh delapan persen aneh."
Debby tertawa kecil, untuk pertama kalinya sejak datang, suasana sedikit mencair, "Sebenarnya saya sudah lama ingin liburan setelah semua urusan perceraian selesai. Nah, rencana itu baru bisa terwujud ketika punya uang dari penjualan rumah, dan saya kepingin pergi ke Eropa bulan depan. Jadi karena kamu juga mau ke Austria, makanya saya berpikiran kenapa kita nggak pergi sama-sama.”
Satrio memandangi tanpa berkedip, menunggu kata-kata selanjutnya, walaupun dia seperti bisa menebak tujuan pembicaraan ini, “Serius?”
“No kidding!” balas Debby.
“Kenapa? Kan kita baru kenal?”
“Kan nggak baru baru banget. Sudah beberapa kali kita ketemu dan mas Satrio sudah bantu menjualkan rumah saya…yang bikin saya merasa nyaman sama mas. Lagipula…” wanita itu berhenti sejenak untuk menghela nafas. “…saya belum pernah pergi sendirian ke luar negeri. Selama ini selalu sama mantan suami. Makanya saya nggak enak kalau sendirian ke Eropa.”
“Tapi saya ke sana bukan untuk jalan-jalan. Saya mau ke nikahan anak.”
“Nggak ada salahnya kan setelah itu menemani saya jalan-jalan ke Italia dan Perancis.”
“Terus…” pikiran Satrio berkecamuk. “…nanti saya kenalkan Debby sebagai apa ke anak saya?”
Wanita itu mengangkat bahu, “Terserah mas. Mau sebagai teman boleh, atau…”
"Atau?" Satrio mulai curiga karena Debby berhenti, diiringi senyum yang aneh.
"Sebagai pacar."
Satrio hampir tersedak kopi dingin yang bahkan tidak sedang diminumnya,"Apa?"
Debby tertawa,"Kok panik gitu?"
"Beneran aku panik."
"Aku cuma kasih pilihan, kok! Kan mas nanya tadi."
"Pilihan yang aneh."
Debby mengangkat alis, "Aku tidak mau membuat situasimu tidak nyaman. Kalau kamu tidak mau menjelaskan siapa aku ke mantan istrimu, ya nggak apa-apa juga. Nanti kalau kamu ketemu sama mereka, nggak usah ajak aku."
“Nggak mungkin dong aku bawa seseorang terus nggak ngenalin orang itu ke keluarga…terutama anakku,” Satrio menatap perempuan itu beberapa detik sebelum tersenyum. “Aku merasa hidup ini kayak sinetron, tiba-tiba ada cewek kaya datang ke kontrakan menawarkan pergi ke Austria dan mau pura-pura jadi pacarku."
"Kalau ditulis di novel juga pembaca mungkin protes," Debby cekikikan.
Mereka berdua tertawa namun setelah tawa itu hilang, suasana kembali tenang, karena di balik semua tawa, bercandaan, dan tawaran aneh itu, Satrio bisa merasakan Debby sungguh-sungguh dengan perasaanya.
"Kenapa?" tanya Satrio pelan.
Debby mengernyit, "Kenapa apa?"
"Kenapa bantu aku?"
Pertanyaan itu menggantung cukup lama. Debby memandangi jendela yang dipenuhi titik-titik hujan. Uap kopi yang menguar mengantarkan wangi yang membuat Satrio ingin meminumnya kembali. Gadis itu berkata pelan, "Karena aku tahu rasanya kehilangan sesuatu yang penting…" Satrio mendengarkan dengan seksama."…aku kehilangan pernikahanku, dan kamu kehilangan kesempatan bertemu anakmu gara-gara penipuan jahat itu."
Perempuan itu tersenyum kecil kemudian kembali berpaling pada Satrio,"Mungkin aku tidak bisa memperbaiki hidupku sendiri. Tapi aku ingin bantu memperbaiki hidupmu. Siapa tahu dengan membantu orang lain memperbaiki hidupnya, hidupku jadi lebih berarti..."