Waktu memiliki satu kebiasaan yang sangat menyebalkan. Ia berjalan lambat ketika seseorang sedang menunggu kabar baik, tetapi berlari bagaikan atlet Olimpiade ketika seseorang belum siap menghadapi kenyataan.
Bagi Satrio, bulan terakhir sebelum pernikahan Nara terasa seperti keduanya sekaligus. Terlalu cepat, sekaligus terlalu lambat. Tinggal sebulan lagi. Tiga puluh hari. Empat minggu…
Angka-angka itu terus berputar liar di kepalanya. Setiap kali bangun pagi. Setiap kali menarik penumpang. Setiap kali membuka kalender di ponsel. Setiap kali melihat foto undangan yang masih tersimpan di galeri. Pernikahan itu semakin dekat. Sedangkan Austria masih terasa sejauh planet lain.
Kasus Tridana Tour masih bergulir seperti bola salju yang semakin lama semakin besar. Semakin banyak orang yang maju dan melaporkan diri sebagai korban. Jumlah korban yang semula empat ratus orang kini bertambah menjadi 450 orang, dengan nilai kerugian mencapai seratus miliar rupiah.
Selain jumlah korban yang terus bertambah, pelaku yang ditangkap juga semakin banyak. Polisi bukan hanya berhasil menangkap pemilik perusahaan, tetapi juga menciduk sejumlah karyawan yang melarikan diri dan diduga ikut terlibat. Tia adalah salah satunya.
Ketika melihat gambar para pelaku yang digelandang polisi saat konferensi pers, Satrio melihat Tia ikut berbaris di antara mereka. Gadis itu tampak lusuh. Rambutnya acak-acakan, mungkin karena sudah beberapa hari dalam pelarian sehingga tidak sempat mengurus diri. Penampilannya jauh berbeda dari sosok yang ditemuinya di kantor travel. Tidak ada senyum di wajah Tia. Kepalanya terus tertunduk ketika polisi menjawab pertanyaan para wartawan.
Satrio tidak tahu harus merasakan apa.
Haruskah ia ikut senang? Atau justru sedih?
Apa pun perasaannya, itu tidak mengubah masalah yang belum selesai. Meski polisi berhasil menangkap para pelaku, uang para korban tetap tidak kembali. Harapan mereka tetap terkubur di bawah tumpukan berkas penyelidikan.
Nara belum mengetahui apa pun tentang kesialan beruntun yang menimpanya... atau lebih tepatnya, menimpa ayahnya.
Padahal seharusnya ia bisa jujur kepada putrinya. Nara mungkin akan lebih memahami jika tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana ayahnya kehilangan harapan untuk bisa pergi. Namun Satrio tidak tega mengatakannya.
Bagaimana mungkin?
Setiap kali putrinya mengirim pesan, nada yang muncul selalu penuh antusiasme.
Papa, bagaimana proses visanya?
Papa sudah dapat jadwal keberangkatan?
Aku lagi pilih lagu untuk wedding reception. Nanti Papa harus dengar, ya.
Papa jadi datang, kan?
Pertanyaan terakhir itu selalu menjadi yang paling sulit. Satrio biasanya membaca pesan itu lama sekali. Lalu mengetik jawaban yang aman.
Masih diurus.
Doakan, ya.