Keesokan paginya, nuraninya memenangkan perang batin yang berkecamuk sepanjang malam, terutama setelah ia menyelesaikan doa pagi yang menjadi rutinitasnya.
Satrio membuka ponsel untuk melacak pemilik tas tersebut. Riwayat order menunjukkan beberapa penumpang: seorang mahasiswa, pegawai kantor, sepasang suami istri, seorang nenek tua, dan pria yang menjadi penumpang terakhir, yang memberinya tip cukup besar.
Menurutnya, profil penumpang terakhir paling cocok sebagai pemilik uang dalam jumlah besar. Pria itu memberinya tip dengan murah hati dan tanpa banyak pertimbangan. Satrio ingin menghubunginya untuk memberitahukan soal tas yang ditemukan, tetapi aplikasi hanya memungkinkan komunikasi satu arah. Penumpanglah yang bisa menghubungi pengemudi.
Satu-satunya cara adalah menemui para penumpang satu per satu. Sayangnya, jika tujuan terakhir orang yang diantarnya bukan ke rumah atau kantor, melainkan mal, tempat wisata, atau ruang publik lainnya, pencarian itu kemungkinan besar akan berakhir di jalan buntu.
Di samping itu, sejauh ini tidak ada pesan masuk dari kantornya yang menanyakan tentang barang tertinggal. Biasanya, penumpang yang kehilangan barang akan menghubungi kantor pusat, lalu perusahaan meneruskan informasi tersebut kepada pengemudi agar barang bisa dikembalikan.
Setelah dua hari berlalu pun, tidak ada kabar apa pun. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Setiap malam tas itu tetap berada di bawah tempat tidurnya. Dan setiap malam pula godaan itu semakin besar. Semakin lama uang tersebut tidak dicari, semakin mudah pikirannya menciptakan pembenaran.
Mungkin pemiliknya tidak terlalu membutuhkan uang itu.
Mungkin jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari hartanya.
Atau mungkin... ini memang jalan yang Tuhan kirimkan.
Ia juga sengaja tidak bercerita kepada Toni dan Udin tentang tas berisi uang yang tertinggal di mobilnya. Mereka pasti akan memengaruhinya dengan berbagai pendapat yang justru membuat pikirannya semakin kacau.
Satrio ingin mengambil keputusan berdasarkan suara hatinya sendiri. Karena sejujurnya, meskipun ia tahu nuraninya terus menunjukkan apa yang benar, ia juga tahu apa yang sebenarnya diinginkan hatinya. Dan keinginan itu tidak lain adalah... Austria.
Hampir puluhan kali ia membuka tas itu hanya untuk mengintip isinya. Bahkan beberapa lembar sempat dikeluarkannya untuk dipegang dan dipandangi. Bau uang baru ternyata mampu menghadirkan godaan yang jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan. Untungnya, ia selalu berhasil mengembalikannya.
Meski begitu, ada satu-dua lembar yang sempat ia masukkan ke dalam dompet. Beberapa jam kemudian, uang itu kembali ia keluarkan dan memasukkannya lagi ke dalam tas, tanpa terpakai sepeser pun.
"Gue bisa gila, nih..." batin Satrio.
Pada malam keenam, Satrio duduk sendirian sambil memandangi tas tersebut.
Austria terasa begitu dekat.
Tinggal membuka resleting.
Tinggal mengambil sebagian.
Tinggal menggunakan uang itu.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang akan menyadarinya.
Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Wajah ayahnya. Seorang buruh sederhana yang telah meninggal bertahun-tahun lalu. Satu kalimat yang pernah didengarnya dari lelaki itu ketika masih kecil, "Hidup itu memang tidak mudah. Kalau suatu hari nanti hidup mengambil semua yang kamu punya, jangan sampai dia juga mengambil siapa dirimu."
Kalimat sederhana. Namun malam itu terasa seperti tamparan.
***
Hari itu Satrio sudah mantap dengan keputusannya. Keputusan yang tidak ingin ia ubah-ubah lagi. Ia memasukkan tas tersebut ke dalam mobil, lalu menuju alamat terakhir penumpang pria yang memberinya tip besar.
Tempat yang ditujunya ternyata sebuah rumah. Ia bahkan bisa langsung bertemu dengan penumpang tersebut tanpa kesulitan, tanpa drama, dan tanpa basa-basi. Pria itu tidak langsung mengingatnya. Wajar saja, karena sudah seminggu berlalu. Namun ketika Satrio menyebut soal tip yang pernah diberikan, pria itu langsung mengangguk.