Menggandeng Langkah Terakhirmu

Lewi Satriani
Chapter #22

ORANGTUA BERJUANG UNTUK ANAKNYA

“Silakan diminum dulu, Pak Satrio,” ujar sang nenek, mempersilakannya menikmati teh setelah seorang pelayan—gadis berusia kurang dari dua puluh tahun—menyajikan secangkir teh dengan teko yang mengepulkan uap dari ceratnya.

Bu Maria masih duduk sambil memeluk tas hitam berisi uang itu, seolah tidak ingin kehilangan benda tersebut untuk kedua kalinya. Tatapannya sesekali melamun, seolah masih sulit percaya bahwa tas yang sempat dianggap hilang kini sudah kembali ke tangannya.

“Makasih, Bu Maria,” Satrio mengangguk.

“Jangan lupa disambi dengan kuenya. Cocok banget.”

Satrio mengambil teh dan kue yang disodorkan, lalu memasukkannya ke mulut. Kue jahe ditemani teh panas merupakan perpaduan elegan yang mungkin tidak akan pernah ia temukan di warung kopi langganan para pengemudi taksi online. Kalau kue itu bukan dibeli dari toko kue ternama, berarti pembuatnya pasti seorang koki yang andal. Menurut Satrio, rasanya memang enak sekali.

Ia bukan penyuka kue jahe, tetapi kue yang sedang dikunyahnya menawarkan rasa jahe yang lembut, tidak setajam kebanyakan kue sejenis. Setelah itu, tertinggal rasa pedas-manis yang menyegarkan ketika disantap bersama teh beraroma melati.

Pandangannya menyapu sekeliling ruangan.

Dari luar, rumah itu memang memancarkan kesan mewah. Namun, bagian dalamnya justru dipenuhi kesederhanaan. Beberapa furnitur bahkan tampak sudah berusia puluhan tahun. Foto-foto keluarga memenuhi dinding ruang tamu. Ada foto pernikahan, foto wisuda yang entah milik anak atau cucunya, serta foto-foto keluarga yang memperlihatkan deretan anak dan cucu.

“Saya pikir uangnya sudah hilang,” kata Bu Maria sambil mengusap matanya. “Saya tidak berani cerita ke cucu saya... saya tidak sanggup.”

Saat itulah Satrio sadar, jika ia mengambil uang tersebut, yang dicurinya bukan hanya uang, melainkan masa depan seseorang.

“Kalau Bapak tidak datang hari ini...” Maria menggeleng pelan. “Saya tidak tahu harus bagaimana.”

Satrio tersenyum tipis, “Syukurlah sudah kembali, Bu.”

Perempuan tua itu kemudian bercerita bahwa uang tersebut merupakan hasil penjualan rumah lamanya di Bintaro, rumah yang baru saja dijual setelah bertahun-tahun tidak ditempati sejak suaminya meninggal. Rencananya, uang itu akan diberikan kepada cucunya, seorang perempuan muda yang bermimpi membuka usaha toko kue.

“Itu salah satu kue buatannya,” Maria tersenyum. “Bagaimana menurut Bapak?”

“Enak, Bu. Enak sekali,” Satrio mengangguk.

“Dia punya bakat. Walaupun resep kuenya dari saya, saya harus mengakui buatannya lebih enak daripada buatan saya.”

“Nggak heran dia mau usaha kue. Saya yakin pasti banyak yang suka dengan kue buatannya.”

“Semoga begitu.” Nenek itu tersenyum bangga. “Walaupun sebenarnya saya ingin dia kerja kantoran setelah lulus kuliah... bukannya usaha kue.”

“Selama itu usaha yang halal, saya yakin pasti mendatangkan berkat,” kata Satrio.

Tidak heran nenek itu begitu menjaga uang tersebut. Uang itu bukan sekadar hasil penjualan rumah. Itu adalah modal.

Modal untuk kehidupan baru…

Lihat selengkapnya