Satrio sebenarnya tidak pernah mengharapkan apa pun ketika mengembalikan tas berisi satu miliar rupiah itu. Tidak piagam. Tidak hadiah. Tidak amplop. Tidak pula menjadi cerita viral di media sosial.
Kalau boleh jujur, ia bahkan berharap urusannya selesai begitu saja. Tas kembali. Pemilik bahagia. Hidup berlanjut seperti biasa. Titik. Namun hidup, seperti biasa, selalu menyimpan misteri sendiri, dan juga kebiasaan aneh. Ia sering menyembunyikan keajaiban di tempat yang paling tidak masuk akal…
Seminggu berlalu. Tiba-tiba ponselnya berdering saat sedang menunggu order. Dari Armand. Tumben Armand menelepon pada jam kerja. Biasanya telepon seperti ini muncul kalau ada pengemudi yang bermasalah atau akan diberhentikan, tapi dia merasa tidak berbuat salah. Atau mungkin akhirnya ada yang melaporkan soal tas berisi uang yang hilang dan dia mendapati bahwa dia sudah salah memberikan barang itu kepada bu Maria.
“Halo?”
“Satrio?”
Siapa lagi kalau bukan saya? batinnya sebelum menjawab, “Ya, ada apa pak Armand?”
“Sore ini bisa ke kantor…saya perlu ketemu anda.”
“Kalau tidak ada orderan bisa saja, pak.”
“Bagus. Nanti saya kosongkan order Bapak sore ini.”
“Oh, baik pak,” ujar Satrio keheranan.
“Jangan lupa nanti sore.”
Armand menyambutnya dengan antusias ketika lelaki itu masuk ke ruangannya sore itu. Atasannya itu tidak sendirian, dia ditemani empat orang asing; dua perempuan dan dua lelaki. Mereka berdiri ketika melihat Satrio sementara Armand sibuk menyalaminya dengan hangat dan berkata dengan senyuman lebar, “Nah, ini dia mitra kerja kita yang luar biasa…”
Satrio membalas salam Armand dengan bingung. Atasannya itu mempersilakannya duduk di sofa dan keempat orang yang bersamanya ikut menghampiri, “Mereka ingin bertemu dengan Bapak. Ini Clara dan Daniel, lalu Mbak Cici dari MENIT.COM bersama kameramannya, Gio”
“Halo…” Satrio memandangi mereka semua dengan pandangan masih berusaha mencerna semua keriuhan ini.
“Saya tidak menyangka cerita Bapak bisa viral begini,” Armand menepuk-nepuk tangan ke lututnya dengan puas. “Ini jadi eksposur bagus buat perusahaan kita.”
“Maksudnya bagaimana?” Satrio mengerutkan kening.
Gadis bernama Clara menjelaskan, “Saya, Clara, cucu ibu Maria.”
“Oh, yang mau buka usaha kue,” Satrio mengangguk-angguk.
Gadis itu tersipu malu, “Nenek cerita semua ke saya…tentang uangnya yang hampir hilang, juga tentang anda. Jadi saya berinisiatif ke sini karena ingin bertemu bapak untuk mengucapkan terima kasih.”