Hidup ternyata memang lebih aneh daripada cerita motivasi mana pun. Pagi itu, Satrio benar-benar berdiri di Terminal 3 Internasional dengan koper hitam pinjaman milik Udin di sampingnya. Rasanya masih seperti mimpi. Kalau setahun lalu ada orang yang bilang bahwa suatu hari ia akan berada di Bandara Soekarno-Hatta sambil memegang tiket Emirates Airlines menuju Austria, ia mungkin akan tertawa. Saat itu bahkan membeli ban baru untuk mobilnya terasa lebih realistis daripada pergi ke Eropa.
"Masih bisa batal kalau takut," Toni menyenggol lengannya.
Satrio mendengus, "Kalau gue batal sekarang, gue lempar lo ke bagasi pesawat."
"Nggak muat."
"Muatan emosional lo aja sudah overweight."
Udin tertawa keras, "Hati-hati ngomong overweight di bandara. Nanti koper dia diperiksa lagi."
“Eh, kalau diperiksa itu gara-gara koper elu yang tanpa isinya aja sudah keberatan,” kata Toni.
Mereka bertiga duduk di café sembari ditemani secangkir kopi selagi menunggu waktu keberangkatan. Suasana terminal sibuk di malam hari itu, orang-orang berlalu-lalang dengan koper berbagai ukuran, beberapa tampak santai sementara sebagian lainnya terburu-buru. Mereka bertiga merasa seperti anak kampung yang nyasar ke lokasi syuting film internasional.
Satrio masih beberapa kali mengeluarkan paspornya dari tas, memastikan paspornya masih ada, lalu memasukkannya kembali. Namun mengeceknya lagi lima menit kemudian.
"Kalau paspornya dicek terus, fotonya bisa bosan," kata Toni.
Udin menimpali, “Yang penting elu sudah di sini dua jam sebelum jam keberangkatan. Amanlah.”
“Elu ngomong gitu, memangnya elu sudah pernah keluar negeri?” Toni melirik.
“Itu kata penumpang yang pernah gue anter ke bandara,” Udin nyengir, dia lalu memandang berkeliling. “Gue sendiri baru masuk ke sini…ternyata bandara itu besar banget… bagus pula…”
“Jadi elu mau mulai trading buat keluar negeri?” Satrio menggoda.
“Nabung,” Udin membetulkan. “Gue kagak trading lagi sejak rungkad.”
“Sudah bener itu. Lebih bener lagi kalau elu mulai nabung buat naik haji. Itu kan keluar negeri juga,” ujar Toni.
“Jadi bagaimana akhirnya taruhan kalian?”
“Kita batalin sebulan lalu. Gara-gara kita kasihan lihat elu ditipu Tridana,” Udin menjawab.
“Munak lu, padahal elu yang nggak senang kita batal…udahannya elu batal menang karena Satrio jadi berangkat ke Austria,” Toni memandang dengan sebal.
“Iya, gagal deh gue dapat satu juta…” ujar Udin.
Debby datang beberapa menit kemudian, wanita itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak berlebihan namun tetap terlihat elegan seperti biasa. Ketika melihatnya berjalan mendekat, Toni langsung berbisik pelan kepada Satrio, "Kesempatan terakhir."
"Diam," Satrio menyikut temannya.
"Masih bisa pura-pura jadi suami."
"Bisa diem gak lu, ton…"
Debby tersenyum ketika tiba di depan mereka,"Sudah siap?"
Satrio mengangguk, "Secara fisik, iya."
"Secara mental?"
"Belum tentu."
Mereka tertawa.
“Tahu nggak apa yang paling bikin nggak aman?” ucap Satrio.
“Duit bekal?” tanya Udin.
Lelaki itu menggeleng, “Bahasa Inggris gue kan pas-pasan. Bagaimana kalau nanti gue harus ngomong sama calon mantu…yang cukup panjang pula…”
“Apalagi di pernikahan cara barat, orangtua harus kasih speech ke pengantinnya,” Debby tersenyum. “Mana sini hape kamu.”
“Mau apa?” Satrio bertanya tapi seraya menyerahkan ponselnya.
Wanita itu tidak segera menjawab, dia mengutak-atik sesuatu sebelum menyerahkan alat komunikasi itu kembali ke Satrio. Pria itu mendapati satu aplikasi baru muncul di layar. Dia menatap Debby, “Aplikasi untuk apa ini?”