Satrio mendorong kopernya melewati pintu kedatangan setelah melewati imigrasi dengan bombardir pertanyaan penuh rasa ingin tahu. Rupanya, sifat kepo bukan hanya milik orang-orang di tanah airnya.
Matanya menyapu kerumunan. Mencari satu wajah.
Hanya satu.
Dan kemudian ia melihatnya.
Nara…
Gadis itu berdiri beberapa meter di depannya, di antara kerumunan. Satrio langsung mengenali putrinya. Rona Indonesia dengan kulit langsatnya tampak berbeda di antara wajah-wajah pucat di sekelilingnya. Ia mengenakan mantel krem dan syal putih. Rambutnya lebih panjang daripada terakhir kali mereka bertemu.
Tubuhnya pun sudah berubah. Dadanya lebih berisi daripada saat terakhir kali Satrio melihatnya, ketika Nara masih duduk di bangku SD. Wajahnya lebih dewasa, semakin anggun.
Namun senyumnya...
Masih sama.
Persis seperti ketika ia masih kecil.
Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka menghilang.
Tidak ada bandara.
Tidak ada penumpang.
Tidak ada Austria.
Tidak ada masa lalu.
Hanya seorang ayah dan anak yang sudah terlalu lama terpisah.
Nara melangkah cepat menghampirinya, nyaris berlari. Tangannya terentang ke depan.
“PAPA!”
Satrio bahkan tidak sempat menjawab. Beberapa detik kemudian, putrinya sudah memeluknya erat.
Sangat erat.
Seolah takut ayahnya akan menghilang lagi.
“Papa datang...” bisik Nara sambil terisak. “Papa benar-benar datang...”
Satrio memejamkan mata. Mantel dan tas yang dipanggulnya terjatuh ketika ia mengangkat tangan untuk membalas pelukan putrinya. Ia berusaha menahan air mata, tetapi akhirnya tetap jatuh juga.
Gadis itu terus memeluknya erat. Satrio bahkan bisa merasakan bahu putrinya bergetar.
Entah bagaimana, pelukan itu menyeretnya jauh ke belakang—ke sebuah rumah kecil di Jakarta, belasan tahun silam...
***
Hujan baru saja berhenti malam itu. Jakarta dipadati kemacetan yang menggila, sesuatu yang biasa terjadi selepas hujan deras di ibu kota.
Satrio pulang kerja dengan tubuh lelah dan aroma kantor yang bercampur asap jalanan. Namun begitu melihat pintu rumah di hadapannya, rasa lelah itu mendadak menguap. Lelaki itu tahu siapa yang akan menyambutnya di balik pintu.
Begitu membuka pintu, terdengar suara langkah-langkah kecil berlari dari dalam, diiringi teriakan lantang.
“PAPAAAAAA!”
Nara kecil muncul dari lorong dengan tangan terentang lebar. Rambutnya berantakan. Matanya masih setengah mengantuk. Piyamanya bergambar kelinci.
Sebelum Satrio sempat meletakkan tas, gadis kecil itu sudah menghambur ke pelukannya.
“Papa pulang! Papa pulang!”
Ia memeluk leher ayahnya seolah takut Satrio akan pergi lagi. Lalu mulai mengoceh ceria. Rasa kantuknya sudah menghilang begitu saja—secepat rasa lelah sang ayah.
“Hari ini Nara gambar Papa!”
“Wah, masa?”
“Iya! Tapi Papa jangan mandi dulu. Nara mau peluk... peluk yang lama...”
Hembusan napas bocah kecil itu terasa hangat di bawah telinganya. Sesuatu yang selalu ingin dinikmati Satrio selama mungkin setiap kali Nara berada dalam gendongannya.
***
Dahulu, ucapan dan pelukan gadis kecil itu hanyalah rutinitas biasa setiap kali Satrio pulang kantor. Kini, semuanya terasa berbeda. Pelukan itu menjadi sesuatu yang amat berharga, terutama setelah ia kehilangan masa kecil Nara.
Di tengah bandara Vienna, kenangan itu menghantam dada Satrio seperti ombak.