Sinar matahari musim gugur menerobos celah tirai kamar hotel. Jam digital di atas meja menunjukkan pukul 10.07 waktu Austria. Itu berarti pukul tiga sore di Indonesia. Waktu sarapan sudah terlewat, dan itu artinya Satrio harus menunggu sampai makan siang.
Namun, itu bukan masalah. Yang dirasakannya saat ini bukan lapar, melainkan pegal di sekujur tubuh.
Satrio masih meringkuk di balik selimut tebal. Bukan karena malas bangun, melainkan karena tubuhnya terasa seperti baru selesai dipukuli. Enam belas jam duduk di pesawat ternyata jauh lebih melelahkan daripada menarik taksi online seharian. Lehernya pegal. Pinggangnya kaku. Kedua betisnya terasa seperti baru selesai mendaki Gunung Semeru sambil menggendong galon.
Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping ranjang. Ada beberapa pesan masuk, tetapi satu di antaranya langsung menarik perhatiannya.
Pesan dari Debby.
Sudah sampai Vienna? Kabari aku kalau sudah.
Satrio mengetik:
Hai, sori slow response. Aku sudah sampai Vienna.
Pesannya langsung dibalas. Sepertinya Debby memang sedang menunggu kabar darinya,
Debby: Kok baru ngabarin? Jetlag, ya?
Satrio: Iya. Baru bangun. Kemarin ngobrol panjang dengan Nara.
Debby: Bagaimana Vienna?
Satrio: Sepertinya menarik. Baru lihat sekilas waktu kemarin perjalanan ke hotel.
Debby: Oh, jadi belum ke mana-mana?
Satrio: Hari ini rencana ke rumah Nara. Dia mau ajak aku ngobrol di rumahnya.
Debby: Memang kalian perlu banyak ngobrol setelah lama nggak ketemu.
Satrio: Mudah-mudahan dia tidak malu denganku.
Debby: Kenapa kamu harus malu?
Satrio: Karena kerjaanku sekarang cuma narik taksi online.
Debby: Kukira kamu agen properti yang baru saja sukses jual rumah.
Satrio: Yang ditipu agen travel.
Debby: Tapi akhirnya berangkat juga karena kejujurannya. Nara harus bangga pada usaha ayahnya.
Satrio: Ya, semoga. Tapi aku tidak mau cerita soal itu. Kesannya bagaimana...
Debby: Menurutku sih dia perlu tahu, tapi terserah kamu saja.
Satrio: Oke, akan kucoba cari momen yang tepat sewaktu kami ketemu.
Debby: Sudah ketemu dengan calon mantu? Bagaimana dia? Ganteng?
Satrio: Matanya biru.
Debby: Bukannya semua orang Eropa matanya biru?
Satrio: Mengingatkanku pada mata biru lelaki yang merebut mantanku.
Debby: Oh, sori kalau mengingatkanmu pada hal itu. Tenang saja, yang merebut mantan suamiku juga bermata biru.
Satrio: 😊 Maksudnya apa itu?
Debby: Maksudnya, bukan hanya kamu yang trauma dengan mata biru. Tapi aku yakin Nara milih lelaki yang ganteng, seperti ayahnya.
Satrio: Pemuda itu ganteng. Tapi mataku tidak biru.
Debby: 😊 Oke, have fun dengan anak gadismu. Jangan lupa sarapan.
Satrio: Kayaknya sudah telat karena aku kesiangan.
Debby: 😊 Too bad for you. Bye then. Nanti kita chat lagi.
Satrio: Bye.
Satrio termenung setelah percakapan itu berakhir.
Itu adalah komunikasi terpanjangnya dengan seorang perempuan setelah puluhan tahun. Ia tidak tahu apakah Debby merasakan hal yang sama, tetapi ada rasa senang, cemas, penasaran, dan keinginan untuk terus mengetahui kabar setiap kali pesan yang dikirimnya mendapat balasan.
Hanya saja, Satrio yakin komunikasi ini tidak akan berakhir hari ini.
Perasaan itu mengingatkannya pada komunikasi pertamanya dengan Nara setelah mereka terpisah cukup lama.
Sekitar sepuluh tahun setelah Nara pindah ke Eropa—ketika usianya tujuh belas tahun—Nara sudah cukup dewasa untuk memiliki ponsel sendiri. Entah bagaimana gadis itu mendapatkan nomor teleponnya, tetapi hati Satrio seperti meledak ketika sebuah nomor asing mengirimkan pesan dari anak yang sudah lama dirindukannya.
Papa, apa kabarnya? Ini nomor Nara.
Nomor Nara segera disimpannya. Dan nomor itulah yang sekarang menghubunginya, “Halo?”
“Sudah bangun, Pa?” Suara Nara terdengar dari seberang sambungan telepon.
“Baru saja.”
“Nara sudah di lobi. Nara tunggu kalau Papa mau siap-siap dulu.”
“Oke, tunggu ya.”
Satrio mengusap wajahnya, “Lumayan juga. Baru hari kedua sudah bikin anak nunggu.”
Ia buru-buru mandi. Lima belas menit kemudian, ia turun ke lobi dengan rambut yang masih sedikit basah.
Nara sudah duduk sambil memegang secangkir kopi. Begitu melihat ayahnya muncul dengan napas terengah-engah, ia langsung tertawa.
“Selamat pagi, Pa.”
“Pagi? Ini sudah hampir siang.”
“Makanya.”
Satrio menggaruk kepala, “Sori, ya. Nggak nyangka bisa tidur selama itu.”
“Nggak apa-apa. Memang begitu kalau habis terbang jauh. Aku sudah menduga.”
“Serius?”