Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #4

Perasaan aneh

Valeri sama sekali tidak berselera dengan sate yang sudah ada di depannya Dia sudah merasa kenyang, apalagi dengan pemandangan di depannya. Apes benar dia. Posisi duduk mereka berada dalam garis lurus.

Anya dan Kaivan.

Mereka memang tidak suap suapan. Malah biasa saja, makan sambil dikepoin teman teman mereka. Tapi retap saja hati Valeri merasa panas karena keduanya terlihat dekat dan akrab.

"Kanu haus, Val? Aku pesan es teh manis lagi?"

Pertanyaan Acha menyadarkannya kalo gelasnga sudah hampir kosong. Rupanya sejak tadi dia hanya minum terus. Lontong satenya hanya baru makan dua dan satenya setengah tusuk.

Sepengaruh itu Kaivan membuat selera makannya hilang.

"Air mineral aja." Bisa diabetes dia kebanyakan konsumsi gula.

"Oke."

Setelah Anca pergi, tatapan seoalah dipaksa melihat ke depan. Ke arah Kaivan dan gong banget, cowo itu juga sedang menatapnya. Lurus dan teduh Sekalu begitu.

Valeri mengalihkannya dengan kesal, yang tidak bisa dia sembunyikan. Berkobar begitu saja. Bodoh amat kalo Kaivan sampai peka.

Dengan malas Valeri menusukkan lontongnya lagi. Bola matanya bergerak reflek lagi ke arah Kaivan yang ternyata menatapnya juga.

Valeri memasukkan lontong itu ke dalam mulutnya dengan matanya yang masih bertatapan dengan mata Kaivan. Kemudian Valeri melengos ketika melihat seringai tipis di bibir Kaivan.

Apa maksudnya, tuh, batinnya kesal.

"Aku bawain kamu air putih yang dingin." Acha sudah berada di sampingnya sambil memberikan sebotol air mineral dingin yang langsung diterima Valeri.

"Thank's," ucap Valery sambil membuka tutup botolnya dan meneguknya cepat.

"Panas, ya, Val?" canda Anya penuh maksud.

Valeri melirik sinis, dengan posisi botol di dekat bibirnya.

"Jangan marah, dong, Val," senyum Acha dengan ekspresi setengah ngeri, takut ngga dikasih contekan lagi. Dia kemudian buru butu fokus dengan saatenya.

Valeri melanjutkan minumnya hingga shabis setengah botol. Efek panas di hari yang terik atau hatinya yamg memang sedang mendidih. Entahlah. Mungkin dua duanya.

Sekarang Valeri tetap menunduk, fokus dengan sate di depannya.

*

*

*

Di tengah perjalanannya bersama Acha ke arah kelasnya, dia bertemu Pak Lesmana. Tepatnya di depan ruangan adik kelasnya.

"Suratnya bisa bapak minta sekarang, Valeri?" tanya gurunya tanpa basa basi.

Aduh, batin Valeri bimbang.

"Besok, ya, pak," sahutnya sesopan mungkin.

"Oke."

Valeri menghela nafas panjang setelah Pak Lesmana pergi.

"Surat apa, Val?" tanya Anya ingin tau.

"Surat ijin eligible." Pikiran jahatnya sedang berdebat dengan hati baiknya.

Tanda tangan sendiri, ngga, ya?

"Hei, Val,"

Valeri agak terkejut

"Eh, iya."

"Kamu jadi ambil eligiblenya?" tanya Acha sambil mengiringi langkah Valeti yang sudah mulai berjalan.

"Mungkin." Valeri menjawab ngga pasti.

"Ke Jakarta?" tanya Acha lagi.

Lihat selengkapnya