Dengan takut takut Valeryi menghampiti papanya di ruang kerjanya malan ini. Beliau sedang bersama mamanya.
Kedua orang tuanya sudah menatapnya sejak dia membuka pintu ruang kerja itu lebih lebar lagi.
Pembicaraan mereka terputus. Valeri bisa melihat ketegangan di wajah keduanya.
Tapi Valeri lebih tegang lagi karena akan memberikan kertas yang sedang dia bawa pada papanya.
"Ada apa, Val?" tanya Amara-mamanya ketika Valeri sudah asa di depan mereka. Sementara papanya menatapnya serius.
Dengan agak berat hati Valeri mengulurkan surtat dari Pak Lesmana.
"Apa itu?" tanya papanya.
"Surat seleksi masuk ptn di Jakarta, Pa." Sudah Valeri putuskan, dia akan mengikuti bisikan malaikat dulu. Kalo ngga berhasil, baru dia akan mengikuti pikitan jahatnya.
"Bukannya sudah kita bicarakan?" tanya Amara ketika suaminya menerima surat itu di tangannya.
"Itu masih diseleksi, ma. Belum tentu lolos," kilah Valeri.
"Lantas buat apa juga ditandatangani, sayang?" tanya Amara lembut.
Valeri menghela nafas panjang, dia melirik papanya yang belum berkata apa apa. Masih membaca suratnya.
"Tapi kalo lolos aku, kan, masuk negeri, mam," kilah Valeri.
"Kamu berani tinggal di Jakarta sendirian?" Amara menarik nafas panjang mendengar kekeraskepalaan putri tunggalnya.
"Nanti ada teman juga, ma, yang ke Jakarta," ngeyel Valeri. Baru kali ini dia berani mendebat mamanya. Jantungnya saja berdebar sangat kencang karena menunggu reaksi papanya. Kalo terhadap mamanya, dia sudah tidak ada harapan lagi.
Amara menarik nafas lagi, kali ini lebih panjang.
"Jadi kamu mau papa tanda tangan?" Suara papanya terdengar melerai perdebatannya dengan mamanya.
Valeri memberanikan diti menganggukkan kepalanya.
"Ya, Pa."
"Kalo diterima? Kamu berani tinggal sendiri?" tantang papanya.
Nyali Valeri agak ciut juga
"Yang penting bisa masuk negeri, kan, pa?" Valeri menjawab pelan, seolah menerima tantangan papanya. Padahal dalam hati dia gemetar juga. Walaupun selama ini kesal dengan sikap papanya, baru kali imi Valeri berani membantah beliau.
"Kamu ngga yakin tembus UTBK?" tanya papanya lagi.
"Yakin ngga yakin, pa."
"Baik, akan papa tanda tangan."
"Herdi," tukas Amara kesal.
"Ngga apa apa, kan. Kamu tau, sendiri, keuangan kita ngga akan memungkinkan Valeri kuliah lewat jalur mandiri," sahut papanya mengalihkan tatap pada Amara.
DEG
Jantumg Valeri berdebar keras.
Tuh, kan. Papa mengatakan lagi ketakmampuannya, keluh Valery dalam hati. Padahal Valeri yakin, bukan papanya tak mampu, tapi papanya tak mau.