"Apa maksud kamu, Nya?" tanya Kaivan setelah Valeri menjauh dari mereka berdua. Tatapannya berubah tajam.
Wajah manis Anya tak berubah, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh sikap tidak bersahabat Kaivan. Anya tetap menyunggingkan senyum manis di bibirnya.
"Kenapa? Valeri harus tau, kan?" tanya Anya dengan tenang.
Wajah Kaivan tampak kesal.
Anya menghela nafas.
"Sampai kapan kamu akan begini, Kai. Kita sudah dijodohkan. Setelah lulus kuliah kita akan menikah. Kamu ngga mungkin terus menerus ngasih Valeri harapan palsu," ucap Anya panjang lebar.
Rahang Kaivan mengeras. Dia marah karena percintaannya dikendalikan oleh keluarganya.
Dia menyukai Valeri, tapi dipaksa harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Anya.
"Aku tau kemarin kamu ngobrol berdua dengan Valeri, kan. Lebih baik jangan lakukan lagi. Dia nanti akan benci sama kamu," tukas Anya penuh arti.
Kaivan menyeringai sinis. Ngga nyangka Anya memata mata-inya
"Kamu akan menikah dengan laki laki yang selalu memikirkan perempuan lain. Itu yang kamu inginkan?" Kaivan menatap Anya dingin. Mencemoohnya.
Tapi gadis itu tetap tersenyum manis dalam sikap tenangnya.
"Aku yakin, kamu ngga akan memikirkan Valeri seumur hidup kamu."
"Kamu salah," sahut Kaivan membuat Anya terhenyak.
Sorot mata Kaivan tambah dingin. Valeri akan selalu ada di hatinya. Tapi dia tidak mau mengutarakannya. Cukup disimpan di dalam hati saja. Anya juga mgga perlu tau.
Tanpa berkata apa pun lagi, Kaivan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Anya. Tapi gadis itu tetap mengikutinya, seolah mereka sedang berjalan beriringan. Seperti yang selama ini dilihat teman temannya. Mereka adalah pasangan favorit yang jadi idaman dan tolak ukur bagi mereka yang selalu mengaguminya dan Kaivan sejak lama
Kaivan, aku akan menunggu sampai kamu bisa melupakan Valeri. Aku akan menunggu sampai saar itu tiba, batin Anya menguatkan hatinya. Selalu begitu yang dia lakukan tiap Kaivan meremehkan dirinya.