Valeri akhirnya tiba juga di rumahnya. Terdengar suara tawa mama dan sepupu mamanya dari dalam rumah
Dugaannya benar. Salamnya dijawab serentak oleh mama dan Tante Selena.
"Sudah pulang, sayang?" tanya mamanya-Amara saat dia menyalim beliau. Biasanya Valeri pulang lebih sore.
"Nggak ada jadwal les, mam." Valeri kemudian menyalim tantenya.
"Oooh.... Ganti baju, setelahnya makan, ya. Ada rendang daging kesukaan kamu," ucap Amara lembut.
"Iya, mam."
Baru beberapa langkah Valeri berjalan pergi, suara tantenya menghentikan ayunan kakinya.
"Katanya kamu mau kuliah di Jakarta?"
Valeri menarik nafas dalam dalam sebelum menoleh. Nanti harusnya dia bersama anak Tante Selena dan anak sepupu mamanya yang lain, rencananya akan kuliah bersama ke Bandung
Ternyata mamanya sudah menceritakan kalo dia agak melenceng dari rencana awal.
"Belum tau juga, tante." Valeri menyahut sopan setelah membalikkan punggungnya, menghadap ke arah tantenya.
"Kenapa? Valeri ngga mau kuliah di Bandung?" Tante Selena bertanya lagi dengan nada nyinyir.
"Nunggu pengumuman snbp dulu tante," jawab Valeri berusaha sabar.
"Oooh....."
"Belum tentu keterima juga, Lena. Nanti juga bareng yang lain ke Bandung." Mamanya-Amara yang menjawab tanpa merasa kalo jawaban itu melukai hati puttinya.
Valeri menatap mamanya kecewa. Selalu saja merendahkan kemampuan anaknya, batinnya kesal.
"Iya, pasti sulit juga keterima. Memangnya gampang. Kan, saingannya banyak," tawa Tante Selena terasa menyakitkan di hati Valeri.
Yang tambah menyakitkan lagi hati Valeri, mamanya juga ikut tergelak.
"Val, kalo nanti ngga lulus snbt, kamu tenng aja. Di Bandung banyak, kok, kuliah dengan biaya terjangkau," cuit Tante Selena seakan mengerti yang jadi beban pikiran Valeri.
"Ngga harus kampus negeri, juga, kan?" lanjutnya lagi.
Valeri hanya tersenyum. Masalahnya kalo biaya di kampus swasta terlalu mahal, papanya sudah wanti wanti tidak bisa membayarnya.
Kalo Tante Selena dan sepupu mamanya yang lain, kehidupan ekonomi mereka masih baik baik saja sepengetahuannya. Sepupu sepupunya sampai saat ini juga masih menikmati hidup mewah mereka.
Valeri merasa papanya tega padanya. Padahal selama ini dia tidak merasa menyusahkan. Begitu juga mamanya yang tidak bisa membujuk papanya. Dia juga kecewa karena mamanya tidak mau meminta tolong pada sepupu sepupunya yang masih kaya raya untuk membiayai kuliahnya.
Valeri merasa dia dididik harus prihatin tapi papanya menghambur hamburkan uangnya untuk membantu saudaranya yang menurutnya ngga pantas dibantu. Begitu juga mamanya, yang selalu lebih perhatian pada keluarganya. Sedangkan dirinya sendiri harus berusaha sendiri dengan susah payah untuk memenuhi keinginannya sendiri.
Valeri merasa sangat kesal dan bibit kebencian itu dengan pelan tumbuh dengan subur di dalam hati, jiwa dan raganya karena selalu dipupuk setiap hari.
Apalagi sekarang perasaan khawatir ngga bisa kuliah di tempat yang dia mau membuatnya jadi sering uring utingan sendiri.
"Ya, tante," sahutnya setelah agak cukup lama terdiam.
"Di Bandung banyak kampus swasta yang bagus. Jangan khawatir," ucap Tante Selena lagi ketika melihat keponakannya yang sudah siap melangkah pergi.