Valeri sudah yakin dengan penampilannya. Dia tinggal menunggu kedatangan Tita saja. Dia mematut kagi dirinya di depan cermin, kemudian menyantelkan tali tas ke bahunya. Valeri memiringkan tubuhnya dan memperhatikan lagi riasan wajahnya di cermin. Setelah dirasakannya ngga ada yang kurang, Valeri meraih paper bag yang berisi tas buat kekasih dari laki laki yang dia suka.
Valeri segera keluar dari kamarnya, dia akan menunggu Tita yang akan menjemputnya di teras aja.
Saat melewati ruang keluarga, dia melihat dua orang sepupu perempuan dari papanya. Mereka hanya lebih tua dua tahun darinya saja dan kini sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak mengenakkan hati Valeri.
Mereka berdua ngga kuliah. Setelah lulus SMA, keduanya langsung bekerja. Mereka jadi perawat kontrak di sebuah rumah sakit swasta.
Valeri tau, mereka datamg pasti mau pinjam uang. Sudah kebiasaan dan Valeri sudah hapal.
"Mau pergi, Val?" tanya Kartika menyapa.
"Iya."
"Pesta, ya?' celutuk Hartini dengan tatapan lekat.
"Iya, pesta ultah."
Keduanya tersenyum yang terasa janggal oleh Valeri.
"Enak, ya, jadi kamu. Sekolah tapi masih bisa pergi pesta. Nanti mau kuliah lagi," ucap.Hartini antusias.
Valeri sudah kebal mendengar kalimat seperti itu dari para sepupu dari papanya. Harusnya dia tidak usah terlalu ambil pusing seperti sekarang ini mendengar kata kata yang menurut gendang telinganya seperti menyindir.
"Kalo mau kuliah tinggal bilang papa aja, kan," sarkas Valeri membuat Kartika dan Hartini terdiam.
Valeri tidak mau lagi melayani celotehan mereka, dia pun melangkah cepat ke arah teras rumahnya, menunggu jemputan.
"Mau kemana?"
Valeru menyalim tangan papanya yang berada sendirian di ruang tamu.
"Ke pesta ulang tahun teman, pa."
"Hati hati."
Valeri menganggukkan kepalanya.
"Iya, pa."
Untungnya jemputannya segera datang. Tita mengklaksonnya.