Acha, Wika, Tita melihat adu tatap Kaivan dan Valeri. Ketiganya saling berpandangan kemudian seolah saling memberi isyarat, perlahan berjalan menjauh.
Mereka seakan ingin memberikan space untuk Valeri yang pasti terguncang perasaannya mendengar pertunangan Kaivan. Walaupun seperti biasa, Valeri akan menutupinya dengan sikap masa bodohnya.
Mereka bertiga adalah saksi hubungan yang tidak ada kejelasan antara Kaivan dan Valeri. Tatap dalam diam keduanya memang cukup mencurigakan.
"Kaivam itu gimana, sih. Jangan PHP anak oramg teruslah. Kan, udah tunangan juga," omel Acha gemas campur kesal.
"Iya, tuh. Padahal baru diumumin tunangan, matanya masih aja ngelihat Valeri." Wika juga ikut menimpali. Dia bahkan menghela nafas berkali kali.
Tita ngga berkomentar apa apa. Saat ini dia hanya ingin membantu menguatkan hati Valeri walaupun temannya itu tetap berusaha terlihat strong. Dia tidak khawatir Valeri akan pingsan karena sakit hati, tapi yang dia khawatirkan kalo temannya akan mengalami patah hati menahun hingga memutuskan untuk jadi jomblo selamanya.
"Eh, Valeri ke sini," info Wika ketika melihat Valeri yang melangkah ke arah mereka. Acha dan Tita mengangguk paham.
"Kirain kalian kemana. Maen tinggal aja," cerocos Valeri sebal. Setelah memutuskan tatapannya dari Kaivan, Valeri baru sadar kalo ketiga temannya sudah tidak berada di dekatnya.
"Pestanya seru, Val," kilah Acha sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Di sini lebih bisa lihat DJnya," kilah Wika santai.
Valeri setuju, sih. Dari sini, atraksi keren DJnya terlihat jelas.
"Aku keluar bentar, ya. Tadi mama telpon. Mau aku telpon balik," jelas Valeri. Sengaja saat mamanya telpon ngga langsung diangkat. Bisa ketahuan kalo pestanya kayak dugem begini.
"Oke. Jangan lama lama," pesan Tita.
"Ya, kalian di sini aja, biar aku nanti ngga sulit nyarinya," pesan Valeri sebelum melangkah pergi.
"Oke," sahut ketiganya kompak.
Setelah Valeri pergi, tatap Acha tanpa sadar tertuju ke arah Kaivan.
"Eh, Kaivan kayaknya ngikutinValeri, tuh," ucapnya
"Mana?" Mata Wika langsung mencari sosok Kaivan. Acha juga.
"Ituh," tunjuk Tita ke arah Kaivan.
Hening sesaat.
"Kaivan udah kayak stalker aja." Wika menggelengkan kepalanya. Ngga ngeri dengan isi kepala Kaivan.
"Kita ikutin, yuk. Buat pastiin dia memang stalker sejati," usul Acha.
"Oke." Tita bahkan sudah melangkah lebih dulu.