Valeri merasa hari hari ini sikap Kaivan pun sama saja dengan kelakuannya. Mereka saling diam dan mengacuhkan satu sama yang lain. Seolah tidak pernah saling kenal atua pernah menyimpan rasa.
Kaivan yang sibuk dengan turnamen basketnya dengan Anya yang selalu setia menemani dan Valeri yang belajar makin gila gila-an demi menggapai keinginannya.
Hari demi hari berlalu, begitu juga bulan demi bulan, hingga ujian akhir terlewati.
"Keriting rambutku, nih," omel Wika setelah akhirnya terbebas dari sesi api neraka ini.
Tita, Acha dan Valeri tertawa lepas. Ulangan kali ini ternyata sulit untuk bekerja sama. Para pengawas ternyata tidak memberi kesempatan pada mereka untuk meminta jawaban pada Valeri.
"Untunglah sudah berrakhir," sela Tita menanggapi.
"Semoga nilainya bagus, ya," harap Acha.
"Sebagian setengah hancur," sungut Wika lunglai. Sama sekali ngga yakin.
Tawa kembali meledak.
"Sudahlah. Yang penting lulus, kan," jawab Valeri setelah beberapa menit kemudian.
"Ya, yakin aja, deh." Wika menyahut pasrah.
"Lebih baik konsentrasi buat SNBT." Acha memberi semangat.
"Iyalah. Semoga berhasil, ya," senyum Tita penuh makna.
"Kalo ngga berhasil, ya, ke PTS-lah," tawa Wika tersembur keras. Dia berusaha menerima kenyataan pahit. Bukannya ngga belajar, tapi banyak soal yang di luar jangkauan otaknya.
"Jalur mandiri-lah. Kalo gagal baru ke swasta," nasehat Acha sambil menatap Wika gemas. Temannya ini terlalu putus asa, batinnya geli.
"Pengumuman SNBP minggu besok, ya?" tanya Tita bertanya sambil menatap Valeri.
"Iya." Perasaan Valeri mulai ngga tenang. Penentu masa depannya. Kalo gagal dia harus berusaha lebih keras lagi di SNBT. Kalo gagal juga, dia ngga akan bisa seperti ketiga temannya yang akan ikut ujian mandiri. Dia akan mencari kampus yang murah, bahkan mungkin yang menyedihkan terpaksa tempat kursus.
Valeri ngga bisa membayangkan reaksi ketiganya kalo nanti dia berakhir di tempat kursusan.
Kesuraman ekonomi sudah membayanginya berminggu minggu yang lalu. Orang tuanya sudah kerap bertengkar. Mama yang tidak terima harta miliknya juga ikut digunakan papa untuk membantu saudaranya hingga mengalami kerugian besar.
Saudara papanya sekarang malah sedang opname di rumah sakit setelah sempat beberapa kali dirawat di ICU.
Yang Valeri sakit hati, keluarga papanya yang sudah dibantu papanya tidak memberikan uluran tangan balas budi. Malah membiarkan keluarganya mengalami kesusahan sendiri.
Teganya. Sementara keluarga mamanya saat ini hanya sedang melihat kejatuhan mereka. Kejatuhannya mungkin. Valeri tidak akan membiarkan dirinya gagal meraih keinginannya. Dia sudah berusaha. Sekarang hanya bisa berdo'a agar mendapatkan hasil yang terbaik.