Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #11

Pertemuan Terakhir?

Tapi tetap saja mata Valeri seakan dipaksa untuk melihat ke arah Kaivan. Dan seperti biasa tatapan mereka bertaut karena Kaivan juga sedang menatapnya.

Lama, Valeri membiarkan mereka seperti itu.

"Beri aku waktu."

Ucapan Kaivan terdengar lagi di indra pendengarannya.

Untuk apa? Valeri memutuskan tautan tatapan mereka. Itu hanya akan membuang buang waktu saja, rutuknya dalam hati.

Valeri ngga akan mempercayai harapan yang tidak pasti. Dia ngga akan mau berharap. Ngga akan pernah.

Acha, Tita dan Wika saling sikut karena sempat memperhatikan tingkah Valeri dan Kaivan.

"Kayaknya Anya ngawasin," bisik Acha.

"Memang sering begitu, kan." Wika balas berbisik.

"Apa dia tau kalo Kavan cintanya sama Valeri?" timbrung Tita juga ikut berbisik.

"Pasti taulah," pungkas Wika sangar yakin.

"Dia mungkin nunggu cinta Kaivan habis di Valeri," bisik Acha.

"Hei.... Kalian nge gibah di depan orangnya," sela Valeri yang gerah mendengar bisik bisik mereka.

Acha, Tita dan Wika yang ketahuan langsung tergelak.

Valeri menatap ketiga temannya dengan tatapan datar.

Rahasianya sudah jadi konsumsi membahagiakan mereka.

*

*

*

Beberapa hari berlalu hingga di malam ini, dengan debaran cepat di dadanya, Valeri membuka situs SNBP, Malam ini pengumumannya. Dengan tangan agak bergetar dia memggeser mouse. Valeri tertegun antara senang dan bingung. Dia keterima di jalur SNBP!

Valeri masih terus menatap layar laptopnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Perasaannya makin ngga tenang

Getaran notifikasi ponselnya menyadarkan lamunan Valeri.

Pak Lesmana menanyakan apakah dia keterima atau tidak.

Valeri membalas pesan gurunya.

Terima, pak, ketiknya membalas pertanyaan gurunya.

Syukurlah. Selamar, ya,Val.

Terimakasih, pak. Valeri membalas pesan gurunya lagi. Dia tau konsekuensinya. SNBP harus diambil karena kalo dia abaikan, adik kelasnya akan kena masalah. Sekolah mereka bisa ditandai kampus yang dia tolak.

Valeri menghela nafas panjang. Papa dan mamanya secara kebetulan berada di rumah. Dia memantapkan hatinya untuk menemui kedua orang taunya.

Dalam hati bersyukur karena tidak mendengar suara suara dengan nada tinggi.

"Ada apa?" tanya papanya ketika melihat kehadiran Valeri. Alisnya bertaut melihat laptop yang dibawa putrinya.

Mamanya juga menatapnya serius.

Valeri menghirup nafas dalam dalam seakan akan dia butuh banyak oksigen untuk mengisi paru parunya.

"Aku keterima SNBP, Pa, Ma."

Hening. Valeri nerasa detik detik jam begitu lama. Dia seperti terdakwa yang sedang menunggu putusan sidang dari hakim.

"Begitu?" suara papanya terdengar berat. Tidak terlalu gembira.

Lihat selengkapnya