Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #13

Kejutan dari Papa

Valeri menatap kopernya lama. Pakaian dan dokumen dokumen pentingnya sudah dia masukkan ke sana. Dia menatap lagi seisi kamarnya yang akan dia tinggalkan. Kamar yang sudah menemaninya selama belasan tahun akan dia tinggalkan dalam waktu yang cukup lama.

TOK TOK

Valeri berjalan ke arah pintu kamarnya dan membuka pintunya, ternyata papanya.yang berdiri di sana.

"Papa barusan kirim tiket pesawat di ponsel kamu." Herdi-papanya melihat dua buah koper yang ada di dekat tempat tidur putrinya. Dia tersenyum.

"Oh iya, pa. Aku belum sempat megang ponsel." Dari tadi dia sibuk memilih pakaian, tas dan sepatu untuk nanti tinggal di Jakarta. Dia sempat bongkar lagi isi kopernya dan mengganti dengan yang lainnya, karena menemukan pakaian, tas dan sepatu yang lebih menarik perhatiannya. Jadi memang ngga sempat megang ponsel yang dia biarkan saja tergeletak di atas tempat tidur.

"Tidak usah bawa banyak pakaian dan barang. Nanti kita beli di Jakarta aja." Papanya berjalan pelan memasuki kamar putrinya yang selalu rapi.

"Dikit, kok, ini, pa. Masih banyak yang ngga ke angkut," bantahnya membela diri.

Papaanya tersenyum kemudian memegang pigura yang menampilkan foto dirinya, istrinya dan juga Valeri di acara perusahaannya.

"Ini ngga dibawa?"

Valeri menggelengkan kepalanya.

"Sudah ada foto yang lainnya, pa, waktu ultah papa kemarin." Valeri merasa foto itu lebih worth it. Biarkan saja foto yang ini tetap berada di kamarnya. Walaupum dia sudah tidak menempati kamarnya lagi untuk sementara ini, tapi tiap orang yang ingin tidur di sini akan tau siapa pemiliknya.

Herdi tersenyum, masih mengingat kejadian manis itu. Beberapa bulan yang lalu.

"Nanti papa kirimkan koleksi tas tas kamu," ucap Herdi sambil melihat lemari kaca yang berisi koleksi tas dan sepatu putrinya.

"Juga sepatu sepatu kamu," senyum Herdi hangat. Dia tau, barang barang ini sebagiannya limitted edition.

Valeri melebarkan senyumnya.

"Papa akan suruh asisten papa yang antar. Tapi kalo kamu mau beli yang baru lagi di Jakarta, ya, ngga apa apa."

"Sebenarnya kalo bisa aku ingin semua barang barang ini aja, pa. Males beli yang baru. Tapi kalo nanti tinggal di kamar kos, kan, ngga mungkin," ringisnya sambil membayangkan betapa sempit kamarnya nanti untuk dia tiduri. Karena semua ruang kosong kamar kosnya akan dipenuhi semua koleksinya.

Papanya tertawa pelan.

"Nanti papa pikirkan. Sekarang istirahatlah. Besok kita harus berangkat pagi pagi sekali." Papanya mengusap kepala Valeri sebelum melangkah meninggalkan kamarnya.

Valeri agak termangu, terakhir papa mengusap kepalanya saat dia lulus SMP.

*

*

*

"Tunggu aku di Jakarta, ya, Val." Acha menelpon Valeri saat jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Lihat selengkapnya