Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #14

Makan malam dengan teman papa

Valeri merasa surprise banget karena unit apartemen yang dibeli papanya ternyata sangat luas. Ada dua kamar tidur dan satu ruangan untuk menyimpan semua koleksi tas dan sepatunya nanti.

Dapurnya juga sudah cukup komplit untuk Valeri yang hanya bisa masak mie instan dan ceplok telur.

Ada satu ruangan yang cukup luas yang sudah dilengkapi sofa dan tivi ukuran lima puluh inch seperti yang ada di rumahnya.

Selain itu pemandangan di luar apartemennya sangat bisa menenangkan hatinya.

"Makasih, pa."

Entah sudah beberapa kali Valeri mengucapkannya dan papanya selalu membalas dengan derai tawa. Papanya yang biasanya sangat serius sekarang sudah menanggalkan topengnya. Suara tawa yang sangat jarang Valeri dengar, kini lebih sering tumpah ruah begitu saja.

Mamanya juga begitu. Akhir akhir ini sering memendam kesal dan narah pada papanya, kini juga bisa tertawa lepas dan bersikap manja pada suaminya. Valeri bisa melihat hubungan dingin itu sudah mencair dan dirinya merasa bersyukur.

Mungkin sekarang mamanya-lah yang paling bahagia. Setelah beberapa minggu lamanya bertengkar dengan papanya, karena ketidakpuasan akibat sikap papanya yang terlalu condong ke arah keluarga besarnya. Sekarang dirinya baru tau kalo suaminya ternyata memikirkan juga untuk memfasilitasi putri tunggal mereka

Selagi mereka membereskan barang barang yang dibawa Valeri, ponsel papanya berdering pelan.

Papa pun menerimanya dan wajah cerahnya bertambah cerah ketika tau siapa yang menelpon.

Obrolan itu tidak berlangsung lama.

"Teman papa mengundang kita dinner malam ini," ucap papanya memberitau setelah menyimpan ponselnya di saku jasnya.

"Istrinya juga ikut?" tanya mamanya-Amara cepat.

"Iya, malah istrinya yang udah mereservasi restorannya."

"Kamu sudah kenal lama dengan dia?" tanya Amara ingin tau. Dia baru mengenal teman suaminya hari ini.

"Baru dua tahun. Kebetulan sering satu project. Saat aku bilang mau kuliahkan anakku di Jakarta dan sedang mencari apartemen untuk putriku, dia langsung merekomendasikan apartemen ini," jelas Herdi panjang lebar. Sorot matanya memancarkan binar kebahagiaan saat bercerita tentang relasi bisnisnya.

"Ternyata apartemennya bagus sekali," sambungnya lagi.

"Ya, apartemennya memang bagus banget." Amara setuju dengan pujian suaminya akan apartemen ini.

Lihat selengkapnya