Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #16

Kehebohan bertemu Arsaka

"Semua barangmu diangkut semua?" Acha menggelengkan kepala melihat semua koleksi Valery ysng sudah berpindah tempat.

"Aku akam minta papa pindahin asetku juga, ah," tukas Tita seakan mendapat ide cemerlang.

"Aku juga berpikiran begitu, tapi kamar apartemenku ngga seluas Valeri," sungut Wika.

"Iya, kamu malah diistimewain. Papaku ngga mau beliin unit di sini. Katanya uangnya udah telanjur bayar IPI," keluh Acha.

"Betul. IPI kita gila gilaan. Untunglah kamu lulus SNBP, Val," sambung Tita.

Valeri tertawa garing. Dia pun mendapat UKT tertinggi. Teman temannya selain udah dapat UKT teetinggi, IPI mereka juga ngga kaleng kaleng. Sesuailah dengan penghasilan oramg tua.

"Malah dibeliin mobil juga. Baru lagi. Kita hanya dikirimi mobil lama," sungut Wika.

"Ngga lamajuga, non. Belum lima tahun juga," sarkas Acha mengoreksi ucapan temannya.

"Iya, sih." Wika menambah durasi tawanya.

"Tapi bagus juga apartemen kita beda beda lokasinya. Jadinya bisa gantian tempat maen kalo bosan." Acha berusaha mengambil hikmahnya.

"Iya. Minggu depan udah mulai ke kampus." Tita menyalakan tv dan memilih chanel musik.

"Kapan kapan kita belanja, yuk," ajak Acha. Stok kulkasnya sudah menipis.

"Pake mobil aku aja. Nanti aku yang jemput kalian. Ngga seru pake mobil sendiri sendiri," tawar Wika.

"Oke. Kapan mau belanjanya?" tanya Valeri.

"Sekaramg juga boleh," tukas Wika. Kalo sekarang dia ngga perlu menjemput mereka satu per satu. Sudah telanjur berkumpul di apartemen Valeri.

Ketiganya saling tatap.

"Boleh juga, belum terlalu sore." Tita menatap jam di pergelangan tangannya.

"Bentar, sisiran dulu," ujar Acha.

"Eh, lihat SWnya Anya?" cuit Tita sambil ngerapiin rambutnya juga.

"Ngga nyimpan nomernya," sahut Wika cuek. Valeri juga sama, dia tidak menyimpan nomor Anya, bahkan Kaivan. Tidak banyak nomor temannya yang dia simpan di ponselnya. Keluarga besarnya saja dia saring. Valeri tidak mau dikepo-in. Dia juga malas buat status dan baca statua orang lain selain status papanya yang sangat jarang dan mamanya yang kebalikan dari papanya.

"Biasa lagi nemenin Kaivan maen basket," sambar Acha dengan nada suara sinis.

"Mana, aku mau lihat," Wika langaung mendekati Tita.

"Val, kamu ngga mau lihat?" ledek Acha yang membuat Tita dan Wika tergelak.

"Hemmm ...." Akhirnya Valeri pun ikut melihat. Ternyata Anya mengambil foto dari jarak yang cukup jauh saat dia sedang jadi penonton dan Kaivan yang akan melakukan shooting di tengah lapangan. Ada beberapa bule yang ikut ke foto. Bahkan ada Geri, anggota tim basket waktu SMA.

"Ngga nyangka Geri juga ngintilin Kaivan," senyum Tita melebar. Dia baru tau keberadaan Geri. Cowo itu sama seperti Kaivan, tidak aktif di sosial media. Menurutnya Geri cowo tertampan nomer dua setelah Kaivan.

"Masih suka sama Geri?" ejek Wika.

Tita hanya meresponnya dengan derai tawa.

"Kalo kecantol bule, kamu bisa patah hati, Ta," ledek Acha membuat Valeri tersenyum lebar. Sementara Tita terlihat santai.

Lihat selengkapnya