"Kita sudah ketemu Valeri, Kai," lapor Nino via telpon setelah pulang dari acara orientasi. Teman temannya sudah sepakat kalo dia yang akan mengabari Kaivan. Nino tau saat ini di tempat Kaivan sudah siang hari. Kaivan pasti sudah bangun tidur sejak tadi, pikirnya.
Kaivan yang sedang nge gym di ruangan pribadinya yang berada di lantai dua terdiam. Tubuhnya masih dibasahi keringat. Dia mengambil handuk kecil untuk mengelapnya.
Dia memang ngga menduga pertemuan teman temannya dengan Valeri akan secepat itu. Diantara ribuan mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul, ternyata benang merahnya dengan Valeri masih terhubung.
"Ganknya juga. Mereka sepertinya ngga satu jurusan. Kaosnya beda," jelas Nino lagi.
"Tapi aku dan Zaki satu jurusan sama Acha dan Tita," lapornya lagi. Soalnya mereka mengenakan kaos yang sama.
Suara Kaivan masih belum terdengar.
"Mau titip salam buat Valeri, nggak?" canda Nino agar Kaivan tidak terlalu banyak mikir lagi.
"Boleh."
Nino tergelak.
"Salam sayang, ya," candanya lagi.
"Boleh." Kaivan menatap wajahnya di cermin. Wajah laki laki yang ngga berani menolak keinginan orang tuanya tapi masih tetap berusaha menggoda idamannya.
Nino tambah tergelak. Dia ngga habis pikir dengan jalan pikiran temannya. Valeri memang cantik, tapi Anya jauh lebih cantik menurutnya. Tapi entahlah kalo di mata Kaivan. Bahkan Anya juga jauh lebih kaya. Mereka bahkan sudah dijodohkan tapi Valeri masih tetap jadi prioritas di dalam otak Kaivan.
"Sejauh ini masih aman, Kai," tukas Nino setelah tawanya mereda.
"Ngga ada laki laki yang dekat dengannya. Tapi ngga tau nanti," sambungnya lagi.
Kaivan ngga menjawab, tapi hatinya yang awalnya merasa lega jadi was was juga.
"Nanti aku sama yang laen bakal jagain Valeri dari gangguan laki laki laen," hiburnya santai.
"Ya, kapan kapan aku akan pulang,"
Kebakar juga, ya, ejek Nino dalam hati.
"Bareng Anya?" cuit Nino agak meledek.
"Nggaklah. Ngapain?" bantah Kaivan cepat. Tau kalo temannya sedang mengejeknya.
Nino tergelak membuat Kaivan mendengus.
"Oke, aku mau mandi dulu, ya. Capek banget tadi orientasi terakhir," tukas Nino setelah tawanya mereda.
"Oke. Thank's, No."
Kaivan meletakkan ponselnya di atas meja. Dia menghela nafas pamjang.
Sampai kapan dia akan membiarkan Valeri berada dalam ketakpastian menunggunya? batinnya merutuk kesal.
*
*