"Val, papa kamu beberapa hari yang lalu kata mama sempat bertengkar sama adiknya," cerita Stefi saat mereka sedang makan malam di ruang makan apartemen Valeri. Tadi meteka beli nasi padang via online.
"Om Arif?" Valeri memastikan dengan debaran keras di dadanya. Tangannya ngga jadi menyuapkan nasi rendangnya. Padahal daging rendangnya sudah dia cubit.
Stefi mengangguk, membenarkan.
"Iya, Om Arif."
"Katanya Om Arif marah waktu papa kamu minta hutangnya dibayar. Kata mama, sih," cerita Celin menambahkan.
Uugghhh .... Dada Valeri terasa panas. Emosinya selalu mudah tersulut kalo membicarakan keluarga papanya yang menurutnya sangat egois.
"Wajar ditagih, kan. Hutangnya milyaran," dengus Stefi merasa sangat kesal.
"Ngga bakal dibayar," dengus Valeri sebal. Dia masih kaget kenapa papanya tiba tiba mau menagih hutang adiknya, Om Arif. Selama ini papanya lempeng aja menurut Valeri. Terkesan ngga akan ditagih seumur hidupnya.
"Sabar, ya, Val," hibur Celin dengan suara pelan dan prihatin.
Valeri hanya mengangguk. Sudah terlalu lama dia sabar. Juga mamanya.
Valeri melanjutkan makannya lagi. Lambungnya malah tambah lapar kalo emosi kayak gini. Stefi dan Celin saling tatap dan melakukan hal yang sama, menghabiskan makanan mereka.
"Besok kamu udah mulai kuliah, Val?" tanya Celin setelah beberapa lama mereka fokus untuk menandaskan makanan mereka.
"Iya. Kalian enak banget masih liburan," decak Valeri. Sedangkan dia akan sibuk mulai besok.
"Makanya kuliah di Bandung," ejek Stefi.
Celin memperlihatkan cengiran khasnya pada Valeri.
Valeri tertawa pelan setelah menelan makanannya. Untung dia ngga sampai tersedak.
*
*
*
"Kuliah kamu lancar?" tanya mamanya via telpon ketika.Valeri ssudah berada di kampus. Dia sekarang sedang berada di kantin dengan semamgkuk soto ayam.
"Lancar, ma."
"Syukurlah."
"Iya, ma."
Terdengar helaan nafas panjangnya.
"Celin sama Stefi katanya mau ke Jakarta."
"Sudah di apartemeku, ma." Valeri tau, pasti mamanya sudah dikabari Tante Selena tentang kedatangan putri kembarnya .
"Ooh .... Ya sudah kalo begitu. Kamu baik baik di sana, ya, sayang," pesan Amara-Mama Valeri. Nada suaranya menampakkam kekhawatirannya.
"Iya, ma."
Valeri menyimpan pmselnya dan melanjutkan makannya setelah mamanya mengakhiri komunikasi mereka.