Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #20

Masih bersama tim basket Kaivan

Teman temannya beneran datang untuk melihat Nino dan teman temannya maen basket. Valeri menghela nafas panjang melihat betapa kerasnya effort mereka untuk datang ke sini. Padahal hanya Wika yang tidak punya hambatan untuk melenggang ke sini. Sedangkan Acha dan Tita?

Huuffhhh ....

"Untung dosenku tadi ditelpon istrinya, katanya ada urusan mendadak. Jadi aku bisa secepatnya ke sini." Senyum Acha melebar. Setelah dosennya pergi, Acha kemudian buru buru pergi ke tempat Valeri.

"Aku malah ngga jadi nyari bukunya." Tita tergelak. Besok saja dia akan mencari bukunya, sekalian mengerjakan tugasnya.

Valeri menggelengkan kepalanya.

"Padahal kalian sekelas," kecamnya. Masih ngga ada bosan bosannya, sih, padahal udah tiap hari bertemu. Bahkan dalam sehari bisa beberapa jam mereka berada di dalam satu ruang perkuliahan.

"Tetap beda, Val, lihat mereka saat kuliah dan maen basket," sanggah Acha di sela gelaknya.

"Aura kegantengan mereka keluar saat maen basket," timpal Tita.

"Dasar," kecam Valeri lagi. Konsentrasinya sempat terpecah dengan kehadiran mereka yang berturutan. Pertamanya yang datang tentu saja Wika yang memang ngga punya halangan apa pun. Kemudian Acha dan beberapa menit kemudian muncul Tita.

Sekarang teman temannya lebih fokus menatap Nino dan teman temannya yang sedang bermain basket bersama mahasiswa lain dari fakultas lain.

"Ngga hanya waktu SMA, di sini pun mereka bisa menarik perhatian mahasiswi, ya," puji Wika ketika melihat banyak mahasiswi yang menonton.

"Apalagi kalo ada Kaivan. Dia yang paling bisa menarik lebih banyak fans." Acha melirik Valeri setelah melemparkan bola panasmya.

Tita dan Wika tergelak. Sementara Valeri hanya balas melirik Acha kesal.

Kenapa harus nyebut nama orang yang ngga ada, sih, omelnya dalam hati. Valeri lupa, padahal tadi dia juga sempat memikirkan hal yang sama dengan Acha.

"Mereka masih belum punya pacar, ya?" tanya Tita setelah tawa mereka mereda.

"Mungkin disimpan, ngga mau diexpose," duga Wika.

"Tapi kepikiran ngga, sih, punya pacar yanng dipuja banyak perempuan cantik?" Acha menatap ketiga temannya bergantian.

"Pasti beban mental banget, ya. Harus bisa nahan cemburu," tawa Wika tersembur heboh.

"Pergi kemana mana jadi pusat perhatian," sambung Tita.

"Cowonya, bukan kita," sela Wika, masih dengan suara tawanya.

Kali ini Acha dan Tita juga ikut tertawa. Sedangkan Valeri tersenyum tipis. Menyadari kebenaran ucapan teman temannya.

"Kamu ngerasa gitu juga, kan, Val?" cuit Acha ketika melihat Valeri menatap Wika.

Valeri ngga menjawab, dia pura pura sibuk dengan laptopnya lagi.

*

*

*

Ngga sia sia mereka menonton Nino dan teman temannya bermain basket. Saat cowo cowo tampan itu mendekat untuk mengambil tas, perhatian para mahasiswi yang tadinya menonton, kini terfokus pada Valeri dan teman temannya.

"Thank's, ya, udah jagain tas kita," ucap Soni ketika mengambil tasnya. Di tangannya, juga tangan ketiga temannya tergenggam botol botol minuman dari fans dadakan mereka tadi. Persis ketika SMA dulu.

Valeri yakin, cowo cowo itu ngga akan pernah terkena dehidrasi karena saking banyaknya fans mereka.

Lihat selengkapnya