Kaivan menghentikan langkahnya yang akan memasuki rumah ketika melihat mamanya sudah bertolak pinggang di sana.
Dia tau, pasti mamanya marah karena mengabaikan pesannya kemarin.
"Kaivan, kenapa kamu ngga baca pesan dari mama?" Mega menatap putranya tajam.
"Aku lupa naruh ponselku dimana, ma." Kaivam sengaja meninggalkan ponselnya di kamarnya. Hari ini dia ngga bawa ponselnya ke kampus. Sebenarnya bukan hanya hari ini saja, Kauvam sudah beberapa kali meninggalkan ponselnya di kamar saat dia bepergian.
Awalnya karena malas membaca pesan dari Anya maupun mamanya. Tapi sekarang dia mulai terbiasa mengurangi ketergantungannya pada ponsel.
Banyak yang bisa dia lakukan selagi ponsel ngga berada di tangannya. Dia mulai rajin belajar di perpustakaan. Targetnya kelulusan yang lebih cepat dari waktu study seharusnya.
Malam hari dia baru melihat pesan pesan dari ponselnya. Teman temannya menghubunginya lewat email setelah tau kebiasaan barunya
Tapi khusus untuk pesan dari Anya dan mamanya, apalagi berisi perintah untuk mengantar atau menjemput Anya, Kaivan sudah beberapa kali menolaknya dengan berbohong dan mengaku lupa menaruh ponselnya. Beberapa bulan ini sudah rutin dia lakukan.
Mega menarik nafas panjang.
"Kenapa akhir akhir ini kamu menghindari Anya?"
Akhirmya mamanya tau juga, batin Kaivan senang.
"Ma, aku ngga pernah setuju, kan, dengan perjodohan ini."
"Kenapa? Kamu ngga pernah ngasih tau alasannya."
Kaivan menghela nafas panjang. Dia belum memastikan hati Valeri lagi. Tapi selaama Valeri belum punya kekasih, dia akan terus berharap.
"Aku sudah menyukai perempuan lain, ma."
Mega menatap tajam putranya.
"Siapa gadis yang kamu sukai? Papanya punya bisnis apa? Sejajar dengan keluarga kita?" Interigasinya gencar.
Kaivan terdiam sejenak. Dia teringat hari hari di saat Valeri tidak dijemput supirmya, tapi malah naek taksi online.
"Aku yang akan menghidupinya nanti."
Mega menarik nafaa lebih dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Jadi dia tidak setara dengan kita?" tuduhnya.
"Walaupun tidak setara, dia selalu diperlakukan dengan baik oleh orang tuanya, mam," bela Kaivan.
"Kamu kayaknya tau banget tentang dia dan keluarganya. Sering ke rumahnya?" sindir Mega memancing, menyenbunyikan kekagetannya.
Kaivan menggeleng.
"Ngga pernah, mam."
"Lho, ngga pernah maen ke rumahnya?" Tatap heran Mega menohok putranya. Terpancar ketakperxayaannya.
Kaivan menganggukkan kepalanya. Memang dia ngga pernah ke rumah Valeri.
"Siapa nama keluarganya. Kalo dia dari kalangan bisnis, papa kamu pasti kenal. Jaringan bisnis papa kamu luas banget."