Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #23

Yang dilakukan mamanya Kaivan

Melihat wajah Anya yang berubah tegang dan ketenangannya yang sudah berganti gelisah, Mega yakin Anya pasti mengenal gadia yang disukai Kaivan.

Teman satu angkatan? Atau teman sekelas? Pertanyaan pertanyaan itu muncul begitu saja di pikiran Mega.

"Jadi kamu sudah tau, ya." Mega langsung saja menarik kesimpulan. Hatinya tambah penasaran karena dari reaksinya terlihar jelas Anya tidak menyuka gadis yang disukai Kaivan. Wajar, sih, siapa yang menyukai saingan yang jadi idaman tunangan sendiri.

Tapi dia benar benar tidak mengerti, seorang Anya yang kelebihannya di atas rata rata bisa merasa terancam dengan seorang gadis yang bahkan mama tunanganya aja ngga kenal.

Anya berusaha menenangkan degup keras jantungnya. Dia kemudian balas menatap mamanya Kaivan setelah ketenangannya kembali.

Anya mengangguk pelan.

"Sudah, tante. Tapi saya pikir Kaivan sudah melupakannya." Dia masih mencoba mendenialnya. Mungkin demi harga dirinya.

Kening Mega berkerut.

"Kenapa kamu sampai berpikir begitu?" tanyanya ingin tau. Jangan jangan Anya sudah dibohongi mereka berdua, batinnya geram.

"Valeri sudah menolak Kaivan, tante," ucapnya yakin.

"Valeri?" Mega mengulang nama itu. Oih, jadi nama gadis yang disukai putranya Valeri, batinnya.

"Ya, tante. Namanya Valeri. Dia pernah satu kelas dengan Kaivan. Dia juga datang di acara ulang tahun sekaligus pertunangan aku dan Kaivan , tante."

Mega menganggukkan kepalanya.

"Mereka pacaran?" selidik Mega ingin memastikan hubungan putranya.

Anya menggelengkan kepala. Tapi perhatian diam diam Kaivan selalu ke Valeri, tante, batinnya sedih.

"Kenapa?" Mega merasa heran dengan sikap putranya yang tidak langsung menjadikan gadis itu pacarnya. Padahal sepertinya dia kecintaan banget sampai berani mengatakan secara langsung pada dirinya.

Anya mengedikkan bahu. Sejujurnya itulah yang ingin dia tau. Kenapa Kaivan ragu ragu.

"Saya juga ngga tau, tante. Itu juga yang selalu saya pikirkan."

"Mungkin gadis itu pernah menolaknya," simpul Mega lagi. Hanya itu alasannya bagi Mega atas keragu raguan Kaivan.

"Mungkin juga tante. Saya tau Kaivan masih bimbang ... karena itu saya selalu menunggu Kaivan," ucap Anya pelan. Ada nada getir dalam nada suaranya.

Mega merasa terenyuh. Dia meraih jari jari tangan kanan Wanda dan menggenggamnya lembut.

"Apakah Kaivan mengatakan tentang perasaannya pada tante?" tanya Anya pelan sambil balas menatap mama cowo yang sudah dia suka sejak kelas satu SMA dengan perasaan khawatir.

Anggukan pelan Tante Mega memuat dunia Anya seakan berputar. Perasaan takut kehilangan Kaivan semakin nyata di pelupuk matanya

"Kai ... Kaivan ... Kaivan bilang apa, tante?" Dia bahkan sampai tergagap. Sudah tidak ada Anya yang selalu tenang lagi. Kegelisahannya terlihat jelas.

Mega dapat merasakan kekacauan perasaan Anya saat ini. Tapi dia harus menyampaikannya agar Anya dan dirinya bisa mengatur strategi untuk mempertahankan pertunangan Kaivan.

"Kaivan ... dia ingjn menolak perjodohan ini."

Anya merasakan dorongan kuat menghantam dirinya, membuatnya jatuh tersungkur di tanah kotor yang becek. Dia tercekat dengan perasaan hancur.

Pantas saja cowo itu mengabaikan pesan dan telponnya. Ternyata dia sudah bertekat lagi untuk mendapatkan Valeri. Pasti itu, kan, keinginannya. Anya menggeram sedih. Sepasang matanya berkaca kaca.

Lihat selengkapnya