"Kapan kapan kita ketemu lagi, ya," ucap Mega ketika kedua gadis itu sudah turun dari mobilnya.
Ngga akan, tolak Valeri dalam hati. Besok besok dia akan menghindari momen ini.
"Ya, tante. Terimakaasih undangannya tadi.".Acha menyahut sopan. Bukan Acha mau mengkhianati Valeri, tapi sering sering makan siang mewah di hotel bintang lima, tentu sayang dilewatkan. Catat, hanya makan siang, bukan mendukung hubungan Kaivan dengan Anya.
Tante Mega menaikan kaca jendela mobil ketika mobilnya perlahan menjauhi kedua gadis itu. Wajahnya tampak puas. Dia yakin Valeri. angat mengerti dengan maksud pertemuan ini.
"Anda senang sekali, nyonya," cicit pengawalnya yang berasa di samping supir melihat wajah sunringah nyonyanya.
"Tentu saja." Senyumnya masih awet di bibirnya. Valeri sudah tidak perlu dia khawatirkan lagi. Pernikahan Kaivan dan Anya akan tetap diselenggarakan tanpa gangguan gadis itu.
Valeri menghembuskan nafas sangat panjang dan lama setelah mobil yang membawa Tante Mega makin jauh dan akhirnya hilang dari penglihatannya.
"Tegang, ya, Val. Aku juga merasa begitu." Acha juga melakukan hal yang sama dengan Valeri. Dia menjejeri langkah Valeri
"Masa?" sindir Valeri masih terus berjalan tanpa menoleh pada Acha.
"Makanmu tadi banyak," ejeknya membuat Acha tergelak.
"Kalo ngga malu sama tante itu, pasti kamu mau ambil makananku yang banyak sisa, kan?" ejek Valeri, kali ini dengan lirikan sinisnya. Tapi bukannya takut, tawa Acha malah tambah keras dan sulit dihentikan.
"Aku harap ngga akan ketemu tante itu lagi," nyolot Valeri sambil terus melangkah.
"Iya, sih. Kamu merasa aneh, ngga, kenapa Mama Kaivan menemui kamu?" Mereka sudah menjauh dari parkiran.
"Ngga anehlah. Mama Kaivan, kan, secara khusus ngundang kita dinikahan anaknya. Malah diminta jadi bridesmade lagi," sarkas Valeri yang ngga bisa menyembunyikan perasaam kesalnya
"Cieee ... marah," ledek Acha. Tawanya terdengar lagi.
Valeri melirik Acha tajam, tapi belum sempat dia mengumpati temannya, suara getaran ponsel yang berada di dalam tasnya jadi menghalangi niatnya.
Ketika melihat siapa yang menelponnya, Valeri segera menerimanya.
"Ya, tante?" Tante Selena yang menelpon.
Bukan jawaban yang Valeri terima, tapi suara tangisan menyayat hati dari Tante Selena yang dia dengar.
"Tante kenapa? Kok, menangis? Celin dan Stefi ngga apa apa, kan?" tebak Valeri jadi merasa khawatir.
Tantenya malah menanggapinya dengan tangisan yang tambah keras membuat Valeri tambah khawatir dengan keadaan kedua sepupunya.
"Val ..., bukan anak anak tante. Mereka baik baik saja ...."
"Trus kenapa tante menangis?"