Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #26

Kesedihan Valeri

"Apa yang mama lakukan?"

Mega yang baru saja mengantar Valeri dan Acha ke kampusnya tersenyum mendengar suara kesal putranya via telpon.

"Cepat sekali kamu taunya," jawab Mega santai. Walau kaget, tapi akhirnya dia mengerti kenapa secepat ini putranya tau.

Hening, yang terdengar hanya helaan nafas memburu putra tunggalnya. Kelihatan sekali putranya sedang menahan emosinya.

"Teman basket kamu yang ngasih tau, ya?" tuduhnya yakin. Dalam hati Mega sedang berpikir siapa di antara anggota tim basket yang kuliah bareng di kampus Valeri, yang jadi mata mata Kaivan.

Masa mereka mendukung hubungan Kaivan dengan Valeri, batinnya gusar.

"Ma, jangan ganggu Valeri."

"Kenapa? Mama hanya memperlihatkan situasi sebenarnya pada Valeri agar dia bisa lebih memahaminya, dna tau posisinya harusnya ada dimana," jawabnya tenang dengan nada suara menusuk.

"Dia tidak perlu memahami apa pun, ma. Aku yang akan memahami dia."

Eh?

Putramya langsung memutuskan komunikasi secara sepihak.

Mega menatap kesal layar ponselnya. Apa apaan, dia? Sekarang Kaivan makin berani menentangnya. Dia ingat ingat lagi wajah dan sikap gadis itu saat tadi bersamanya. Gadis itu memang terkejut saat melihatnya. Tapi dia tidak menunjukkan perasaan takut. Mental gadis itu tidak main main ternyata.

*

*

*

Kaivan menatap layar ponsel yang sudah menggelap dengan perasaan yang masih mangkel. Tidak dia sangka mamanya akan senekat ini sampaai menemui Valeri.

Mamanya yang biasanya over confident dengan rencana rencananya, sekarang malah mengambil langkah tak terduga.

Pasti mama tau dari Anya, geramnya dalam hati.

Apa yang sudah dilakukan mamanya bisa saja membuat ketakyakinan Valeri makin melemah terhadapnya. Atau mungkin menguat?

Kaivan mengeluarkan nafas dengan kasar. Mamanya melakukan apa saja agar dia retap bersama Anya. Dia benci sekali. Harusnya mamanya mendukung keinginan anaknya, kan? Bukan anak orang lain.

Kaivan kadang tidak mengerti dengan pemikiran serakah mamanya. Mereka sudah tidak butuh menantu kaya, karena kekayaan keluarganya ngga akan habis hingga sepuluh turunan. Saham saham, bisnis hotel, bisnis tambang dan bsinis properti, mereka punya semua, bahkan merajai. Kenapa harus tetap dengan Anya yang keluarganya juga berbisnis yang sama?

*

*

*

Tubuh Tita menegang ketika membaca pesan dari Acha. Temannya itu malah mengirimkan pesan sebelum dia bertanya. Memang sudah sesuai dengan janjinya, Acha akan menjelaskan alasan kenapa membatalkan acara makan siang yang sudah mereka setujui.

Sorry, say. Aku dan Valeri ngga bisa makan siang bareng kalian. Nanti akan aku jelaskan alasannya.

Setelah mengirim pesannya, Acha tidak bisa dihubungi, juga Valeri. Ponsel kedua temannya aktif, tapi tidak merespon.

"Ada apa?" Wika bertanya drngan mimik wajah heran. Dia baru saja keluar dari dalam mobil dan sedang mendekati Tita. Mobil juga baru terparkir. Mereka baru pulang dari kafe.

Tita ngga menyahut. Ludahnya kelu. Dia mendekatkan layar ponselnya ke arah Wika, menunjukkan pesan yang dikirim Acha.

Wajah Wika menampakkan keterkejutan yang amat sangat. Dia pun sempat ngefreeze, sama seperti Tita tadi. Jantungnya berdebar keras dan cepat.

Lihat selengkapnya