Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #27

Ikatan darah yang menyakitkan

Valeri masih membisu. Kemarin jenazah papanya sudah dikuburkan. Ketiga temannya ikut pulang dan menemaninya kemarin. Juga keempat anggota tim basket juga ikut datang. Selain itu teman temannya baik di kota ini maupun yang berada di luar kota juga menyempatlan diri pulang untuk menjenguknya. Termasuk guru guru di SMAnya. Mereka menghiburnya, memberikannya dukungan.

Valeri ngga menyangka kabar meninggalnya orang tuanya tersebar cepat hingga banyak yang datang menghiburnya.

Kemarin perasaannya sudah cukup lebih baik. Tapi hari ini, semuanya sudah berantakan lagi

"Tidak bisa begitu. Valeri adalah pewaris utamanya. Kamu ngga bisa bertindak semau kamu. Lagi pula hutang kamu belum dibayarkan," sentak Tante Selena mengingatkan adik suami Amara.

Om Arif hanya menyeringai.

"Hutang itu urusanku dengan masku. Valeri masih kuliah, ngga mungkin bisa menghandle perusahaaan sebesar punya mas Herdi," bantahnya ngotot.

"Terap tidak bisa kamu yang ambil alih. Bisa hancur keuangan perusabaaan. Saat Valeri sudah siap memimipin, perusahaannya sudah bangkrut," sentak Selena lagi.

"Sudah Selena. Arif tau yang akan dia lakukan," lerai Oma Valeri dari pihak papanya-Rusnini.

Arif menyeringai mendapatkan pembelaan mamanya.

"Lagi pula perusahaan Herdi juga sudah terlilit banyak hutang. Cepat atau lambat pasti akan bangkrut juga," sambung Rusmini membuat mata Selena membelalak. Walaupun sudah tau dari cerita Amara, tapi dia ngga menyangka separah ini kelakuan keluarga dari pihak suami sepupunya itu.

"Iya, ma. Paling cuna bisa selamat beberapa bulan saja," sambung Om Arif dengan nada mengejek.

"Kayaknya Herdi sudah menjual sebagian besar sahamnya ke perusahaan lain. Mungkin Valeri nanti hanya bisa jadi pegawai saja di sana " Burhan-papanya Kartika dan Hartini juga ikut bicara.

Hampir saja Tante Selena menyentak kalo tangannya tidak dipegang oleh suaminya yang menggelengkan kepala. Melarangnya ikut campur. Juga mamanya yang menatapnya dengan sedih.

Valeri juga muak mendengarnya. Papa dan mamanya baru sehari dikuburkan, tapi om dan omanya sudah mau menguasai perusahaan papanya. Padahal itu perusahaan papinya!

"Kalo perusahaan Herdi bangkrut, Valeri masih bisa hidup tenang. Bukannya udah dibelikan apartemen sama mobil, ya. Lagi pula keluarga dari pihak mamanya juga ngga akan membiarkan Valeri menderita," pungkas Om Arif sambil melirik mama mertua masnya.

Kalo saja energi Valeri masih tersisa, dai akan menampar mulut om ngga tau diri itu.

"Herdi sepertinya punya firasat kalo akan meninggal. Syukurlah, dia sudah menyiapkan bekal untuk Valeri. Om ngga akan bisa bantu biayai kuliah kamu sampai, Val," ucap Om Buthan, kakak tertuanya Herdi, langsung mewarning.

"Valeri bisa jual apartemen dan mobilnya kalo uang tabungannya habis. Bisa laku mahal itu. Nanti tinggal di kos-an aja," saran Om Arif.

"Besok kita bisa temui pengacara papa kamu, Val. Buat ngasih mandat ke Om," lanjutnya lagi dengan sangat percaya diri. Apalagi hanya memang dia yang bisa. Kakak laki laki tertuanya hanyalah guru SMA yang ngga akan mengerti urusan bisnis.

Lihat selengkapnya