"Perusahaan sudah diakuisisi?" Kaget Om Arif ngga terkira. Dia ngga menyangka kakak laki lakinya akan melakukan ini.
Pagi ini pengacara keluarga datang ke rumah Valeri setelah dihubungi Om Arif.
Dia benar benar sudah bangkrut, batinnya kesal. Tidak ada vila, tanah, bahkan sawah yang dia tinggalkan untuk Valeri. Bahkan rumah ini dijadikan aset jaminan yang kapan saja bisa disita
Hanya apartemen dan mobil Valeri yang tersisa. Mungkin kakak laki lakinya tidak ingin putrinya sampai tersendat kuliahnya dan hidup susah setelah dia tinggalkan. Arif sudah memperkirakan, kalo pun nanti apartemennya dijual maka Valeri masih bisa membeli apartemen yang masih layak dengan uang hasil penjualannya bisa dia gunakan untuk bertahan hidup selama beberapa tahun sanpai dia mendapatkan suami yang kaya raya. Arif menyeringai sinis.
Dia benat benar sudah mempersiapkan masa depan putrinya dengan sangat baik, batinnya geram. Arif yakin, pasti kakaknya juga sudah menyiapkan tabungan untuk bekal hidup Valeri.
Valeri ngga tau harus berkata apa. Teringat papanya yang tiba tiba saja sudah memberikannya apartemen, mobil dan sejumlah uang beberapa bulan yang lalu. Hatinya tambah sedih. Papanya pasti sangat mengkhawatirkannya.
"Mereka tidak akan mau menanggung hutang hutang almarhum papamu," bisik Tante Selena puas. Melihat reaksi keluarga Valeri dari pihak papamya, sudah sangat jelas, karena hanya menginginkan harta. Sayangnya harta itu sudah tidak ada lagi.
Valeri merasakan genggaman lembut tangan Tantenya. Ngga disangkanya, Tantenya sangat mendukungnya. Padahal dulu dia sering merasa jengkel dengan cuitan cuitan bawelnya.
"Tante, makasih," ucapnya penuh haru setelah kedua omnya dan juga omanya pergi meninggalkannya dengan Tante Selena dan pengacaranya.
"Kamu jangan khawatir dengan soal rumah. Tante yang akan menebusnya. Terlalu banyak kenangan tante dan mamamu di sini."
Valeri tersenyum mendengarnya.
"Tapi kamu rahasia-in, ya."
Mata Valeri mengerjap senang. Ngga disangka Tante Selena mau melakukannya. Ternyata selama ini dia sudah berprasangka buruk. Tante Selena ngga sejahat yang dia kira.
Maaf, tante, batinnya menyesal.
"Terimakasih, Tante," ucapnya penuh haru.
"Masih akan ada yang datang. Kita tunggu sebentar lagi," ucap Om Rinto sambil melihat jam di pergelangan tamgannya.
"Siapa, Om?" Valeri bertanya heran. Dia mengira pertemuan ini sudah selesai.
"Yang mengakuisi perusahaan papa kamu. Katanya mereka agak terlambat." Om Rinto tersenyum penuh makna.
Jantung Valeri berdebar cepat. Ada perasaan ngga rela karena perusahaan yang sudah diusahakan papanya dari nol harus menjadi milik orang lain.
Tante Selena menggenggam tangan Valeri seakan ingin memberikannya kekuatan. Dia juga ngga tau siapa yang sudah mengakuisisi perusahaan suami sepupunya.
Ngga lama kemudian terdengar ucapan salam yang Valeri sangat mengenal suaranya.
"Kejutan," seru Tante Sherli dengan wajah sunringah.
Valeri tersenyum dengan wajah agak bingung tapi juga penuh harap menatap kedatangan sahabat almarhum papanya. Lengkap dengan Arsaka.
Jadi tante dan om? batin Valeti sambil menatap bergantian wajah Om Sena, Tante Sherli dan Arsaka.
Tante Selena masih mengingat, ketiga tanu ini juga datang tadi malam. Dan mereka terlihat cukup akrab dengan keponakannya.
"Saya sahabat Amara. Anda pasti Selena, ya. Mendiang Amara selalu bercerita tentang anda."
Tante Sherli mengulurkan tangannya pada Selena yang langsung menyambutnya.
"Iya. Apakah anda yang mengakuisisi perusahaan suami Amara?"
Tante Sherli menganggukkan kepalanya.
"Tepatnya suami saya." Tante Sherli tersenyun hangat.
Om Rinto langsung menyela.
"Bu Selena, kenalkan ini sahabat almarhum Herdi dan istrinya. Pak Sena Subrata dan Bu Sherli. Ini putra mereka, Mas Arsaka."
Selena mengangguk sambil menyunggingkan senyum ramahnya.