Menggapai MIMPI

Rahma Ar
Chapter #29

Setelah lima tahun

"Selamat Kaivan." Papa Kaivan memberikannya ucapan selamat pada putranya atas keberhasilannya membangun dan nengembangkan perusahaannya secara mandiri.

Kaivan tersenyum. Akhirnya papanya mengakuinya juga.

Teringat tantangannya lima tahun yang lalu saat dia meminta agar pertunangannya dengan Anya dibatalkan.

Flashback on

"Aku ngga akan minta papa bayar biaya uang kuliahku. Aku juga ngga akan minta uang papa lagi untuk apa pun." Saat itu Kaivan meletakkan semua kartu kartunya, kunci mobil dan kunci apartemennya. Tekatnya sudah bulat. Dengan begini dia ingin Valeti tau kalo dia serius dengannya Berharap Valeri menolak dijodohkan dengan anak rekan bisnis mendiang papanya.

Mamanya-Mega sampai melotot marah melihatnya. Sementara papanya masih diam, seolah sedang berpikir apa yang harus dia lakukan terhadap putra satu satunya.

"Demi gadis itu kamu menyingkirkan Anya? Otak kamu dimana, Kaivan?!"

"Dia gadis yang aku inginkan sejak lama, ma."

Mega hampir saja menabok kepala putranya saking emosinya.

Kenapa putranya bodoh sekali, makinya geram. Dadanya hampir meledak karena penuh dengan umpatan untuk anak tunggalnya. Kalo saja dulu rahimnya ngga diangkat gara gara kanker stadium dua, dia masih punya harapan untuk putra atau putrinya yang lain.

"Kamu pikir bisa hidup dari beasiswa dan kerja magang begitu? Kamu pasti ngga akan betah tinggal di apartemen murah," semprot mamanya lagi.

"Aku bisa, ma," ngeyel Kaivan, teguh dengan pendiriannya.

Saat istrinya akan menyemprot putranya lagi, suaminya Otto Dirjo menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menatap putranya dengan tatapan tenangnya.

"Kalo kamu sampai kembali meminta semua fasilitas ini," jeda Otto Dirjo sambil menunjuk semua fasilitas yang dikembalikan putranya.

"Kamu akan menuruti apa pun keinginan papa dan mama?" tantang Otto Dirjo tenang.

"PA ...!" Mega langsung protes. Dia takut mereka akan kalah karena baru kali ini Mega melihat sekeras kepala ini putranya.

Tapi suaminya hanya mengangguk sebelum mengalihkan tatapannya pada putranya.

"Bagaimana? Kamu setuju, Kaivan?"

"Aku setuju, pa." Dari tadi dia ingin menjawab, tapi mamanya tadi sudah keburu mengeluarkan suaranya

Mamanya menghembuskan nafas kasar. Sedangkan suaminya tersenyum.

"Oke, mama saksinya."

Mega mendelikkan matanya, tidak terima dilibatkan.

Putranya kemudian pergi meninggalkan papa dan mamanya yang masih menatap punggung putra semata wayang mereka yang makin menjauh

"Baru kali ini aku melihat Kaivan punya keinginan sendiri. Selama ini kita yang mengaturnya, kan? Dan dia selalu patuh," ucap Otto Dirjo masih belum memalingkan tatapannya, walaupun bayangan putranya sudah menghilang.

"Tapi buat apa? Perusahaan almarhum papa gadis itu sudab collapse. Kaivan hanya menyusahkan dirinya saja." Istrinya memasang muka masam.

Otto Ditjo merengkuh bahu istrinya, berusaha meredakan kemarahan istrinya.

"Aku sudah menyelidikinya. Perusahaan mendiang papa gadis itu be(um bangkrut. Tapi dia meminta tolong teman bisnisnya mengelolanya sampai putrinya lulus kuliah. Aku takjub karena dia melakukan itu seolah tau akan meninggal."

Mega terdiam. Dalam hati dia sebenarnya juga merasa iba. Ditinggal orang tua secara mendadak seperti itu pasti saat ini perasaan gadis itu sangat terguncang.

"Tapi belum tentu temannya amanah, kan?"

Otto Dirjo tersenyum lembut

"Aku kenal temannya. Lagi pula aku dengar, dia tertarik ingin menjodohkan anaknya dengan gadis itu. Kalo mereka jadi menikah, Kaivan pasti akan menyerah. Karena usahanya sia sia."

Oooh, Mega menganggukkan kepalanya. Dia baru paham dengan rencana suaminya. Pantas saja suaminya mau mau saja menerima permintaan Kaivan.

"Tapi kalo gadis itu dan putra temannya tidak jadi dijodohkan, bagaimana?" Walaupun kemungkinannya kecil sekali, tapi tetap saja dia merasa takut.

Suaminya tersenyum lembut.

"Kita lihat saja nanti. Tapi kalo jodoh Kaivan memang dengan gadis itu, ya, sudah. Jangan kita larang lagi," ucapnya bijak.

Mega menarik nafas dalam. Ngga bisa mendebat suaminya lagi.

Endflashback

"Kamu sudah siap kembali ke Jakarta?" tanya papanya sambil menepuk pundak anak laki lakinya yang sudah tampak lebih dewasa.

"Besok, pa."

Otto Dirjo tersenyum.

"Perusahaan papa menunggu kepemimpinan kamu."

Lihat selengkapnya