
Suara denting gelas kristal beradu dengan alunan musik jazz lembut dari sebuah kuartet string di sudut ruangan menciptakan kontras yang ganjil dengan keheningan di dalam kepala Muhammad Nur Hidayat. Di luar jendela kaca setinggi empat meter, panorama malam Kota Jakarta terbentang layaknya lautan permata tiruan yang berdenyut tanpa henti. Dari lantai 57 penthouse pribadinya di kawasan SCBD, lampu-lampu gedung pencakar langit tampak kecil, rapuh, dan teramat jauh. Namun, tidak satupun dari kemegahan itu mampu menembus dingin yang merayap di dada Nur Hidayat.
Ia mengenakan setelan jas bespoke dari bahan wol Italia berwarna charcoal, hasil rancangan tangan seorang penjahit legendaris di Milan yang diterbangkan khusus ke Jakarta. Setiap detail jahitannya sempurna, jatuh di tubuh atletisnya tanpa cela. Jam tangan di pergelangan tangan kirinya, sebuah tourbillon langka berlapis emas putih dan bertahtakan berlian hitam, berdetak dengan presisi mekanis yang luar biasa. Tapi bagi Hidayat, waktu tidak lagi bergerak maju; waktu terasa membeku dalam lingkaran kebosanan yang tak berujung.
"Bagaimana proyek perluasan logistik di Cikarang, Pak Nur?" tanya Rendy, tangan kanan sekaligus direktur operasional perusahaannya, berdiri dengan canggung di dekat meja bar marmer putih. Rendy memegang segelas single malt scotch berusia seperempat abad, meskipun ia hampir tidak pernah meminumnya saat sedang mendampingi bosnya.
Hidayat menyesap air mineral berkarbonasi dari gelasnya tanpa menoleh. Tatapannya masih terpaku pada kilau lampu kendaraan di jalan raya bawah sana yang merayap bagai aliran darah buatan dalam tubuh raksasa metropolitan.
"Berjalan sesuai rencana, Rendy," jawab Hidayat, suaranya rendah, datar, dan nyaris tanpa emosi. "Angka-angka di atas kertas selalu terlihat bagus. Laba bersih kuartal ini naik empat puluh persen. Pemegang saham tersenyum lebar. Semua orang di lantai direksi merayakan kemenangan semu itu setiap hari Jumat."
"Tapi?" Rendy menangkap jeda yang disengaja dalam nada bicara atasannya. Ia telah bekerja bersama Hidayat selama hampir satu dekade dan tahu betul apa arti tatapan kosong itu.
Hidayat akhirnya berbalik. Wajahnya tajam, dengan rahang tegas dan sorot mata kelam yang menyembunyikan kelelahan kronis. Ia melangkah mendekati Rendy, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas karpet wol sutra Persia yang tebal.
"Tapi, Rendy, apa gunanya semua ini?" Hidayat menunjuk ke sekeliling penthouse mewah tersebut dengan gerakan tangan yang malas. "Aku memiliki tiga puluh mobil sport di garasi bawah tanah yang sebagian besar bahkan belum pernah aku kendarai di jalan raya. Aku memiliki properti di London, Singapura, dan Swiss yang dikunci rapat sepuluh bulan dalam setahun. Aku bisa membeli apa saja di dunia ini dalam hitungan detik hanya dengan satu ketukan jari di layar ponsel. Tapi, ketika malam tiba dan aku duduk sendirian di sini, aku merasa seperti hantu yang menghuni museum kemewahannya sendiri."
Rendy menarik napas dalam-dalam, mencoba merumuskan jawaban yang tepat. "Anda bekerja terlalu keras, Pak. Tekanan membangun kerajaan bisnis di usia muda memang—"
"Bukan karena kerja keras, Rendy," potong Hidayat cepat, suaranya sedikit meninggi, memecah kesunyian ruangan yang megah itu. "Ini bukan kelelahan fisik. Ini adalah kehampaan eksistensial. Aku terbangun setiap pagi karena alarm, bukan karena gairah hidup. Aku menjalani hari-hari seperti mesin yang telah diprogram dengan algoritma kesuksesan finansial. Tidak ada kejutan. Tidak ada tantangan sejati. Semua orang di sekitarku selalu berkata 'ya' pada setiap ide, lelucon, atau perintah yang keluar dari mulutku. Dunia ini telah menjadi terlalu mudah, dan karena itulah, dunia ini kehilangan rasanya."
Rendy meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan bunyi denting pelan. "Mungkin Anda butuh liburan panjang. Pesawat pribadi Anda siap kapan saja. Kita bisa menerbangkan Anda ke Bahama atau resor pribadi di Polinesia Prancis."
Hidayat mendengus, sebuah tawa sinis yang pendek dan getir. "Liburan? Untuk apa? Duduk di pantai pribadi sambil menatap laut biru ditemani pelayan yang siap sedia membawa sampanye? Itu hanya memindahkan kebosanan dari ruang kaca ber-AC ke pasir putih ber-AC. Kebosanan ini ada di dalam diri, Rendy, bukan di lokasi geografis."
Suasana mendadak senyap kembali. Musik dari kuartet string di sudut ruangan telah berganti dengan melodi yang lebih sayup. Di luar, gerimis mulai turun, mengaburkan kilau lampu kota menjadi sapuan warna-warni yang buram di kaca jendela.
"Ada satu hal lagi, Pak," kata Rendy ragu-ragu, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna krem bertekstur kasar. "Ini dikirimkan ke kantor pusat sore tadi. Tidak ada cap pos. Diantar langsung oleh kurir swasta yang menolak menyebutkan identitas pengirimnya."
Hidayat melirik amplop itu sekilas. "Surat kaleng dari pemeras atau protes dari warga sekitar pabrik lagi?"
"Bukan," jawab Rendy sambil menyerahkan amplop tersebut. "Nama Anda ditulis tangan dengan tinta hitam di bagian depan. Dan stempel lilin di belakangnya... saya belum pernah melihat lambang seperti itu sebelumnya."
❖ ❖ ❖
Hidayat menerima amplop itu dengan ujung jarinya, merasakan tekstur kertas tebal yang tidak biasa. Ada aroma samar yang menguar dari amplop tersebut—bau kayu manis tua dan sesuatu yang mirip dengan dupa kuil kuno. Dengan gerakan lambat, ia merobek segel lilin merah tua di bagian belakang. Di dalamnya terdapat selembar perkamen tua berwarna kekuningan, bukan kertas HVS modern yang biasa digunakan dalam korespondensi bisnis korporat.
Ia membentangkan perkamen itu di atas meja bar. Tulisannya rapi, ditulis dengan pena bulu menggunakan tinta hitam pekat yang tampak mengkilap di bawah cahaya lampu gantung kristal.
Untuk Muhammad Nur Hidayat, Engkau yang merasa memiliki segalanya namun sesungguhnya tidak memiliki apa-apa. Kemewahan yang engkau agungkan hanyalah tirai tebal yang menutupi penjara emas buatanmu sendiri. Jika engkau memiliki keberanian untuk keluar dari labirin kenyamananmu, datanglah malam ini pukul dua belas tepat ke alamat di bawah ini. Temui apa yang telah lama hilang dari jiwamu.
Di bagian bawah surat tertera sebuah alamat di kawasan Kota Tua, sebuah distrik kolonial tua di Jakarta utara yang pada malam hari biasanya berubah menjadi labirin sunyi dan remang-remang.
Hidayat mendengkus membaca kalimat-kalimat itu. Ia melipat kembali perkamen tersebut dan melemparkannya begitu saja ke atas meja marmer.
"Lelucon murahan," gerutu Hidayat. "Pasti ulah pesaing bisnis yang ingin menguji mentalku, atau lebih buruk lagi, aksi pemasaran gimmick dari agensi kreatif yang kehilangan akal sehat."
"Tapi, Pak," kata Rendy dengan nada cemas, mendekati meja dan melirik tulisan di perkamen itu. "Kurir itu meninggalkan pesan spesifik untuk saya. Katanya, jika Anda tidak datang, rahasia terbesar tentang kejatuhan perusahaan keluarga Anda sepuluh tahun lalu akan terkubur selamanya."
Mendengar kata-kata itu, seluruh otot di tubuh Hidayat mendadak tegang. Suasana santai namun dingin di ruangan itu berubah menjadi medan magnet yang menarik perhatiannya secara total. Ia menatap tajam ke arah Rendy.
"Apa yang kau katakan?" suara Hidayat berubah dingin, hampir berbisik. "Ulangi kalimat itu."
"Kurir itu... dia bilang ia tahu persis apa yang terjadi di balik kebangkrutan mendadak dan kematian tragis ayah Anda," jawab Rendy dengan suara bergetar. "Dia bilang surat itu bukan ancaman, melainkan undangan untuk membuka kebenaran yang selama ini sengaja dikubur dalam-dalam oleh orang-orang terdekat Anda."
Hidayat terdiam. Ingatannya langsung melompat mundur ke masa lalu, ke sebuah malam kelam satu dekade lalu ketika ayahnya ditemukan tewas di ruang kerja pribadi di Bogor akibat serangan jantung mendadak, tepat sehari setelah perusahaan tekstil warisan keluarga mereka dinyatakan pailit secara misterius. Saat itu, Hidayat yang masih berusia dua puluh dua tahun harus menelan mentah-mentah narasi resmi kepolisian dan dewan direksi: kegagalan manajemen dan tekanan pasar global. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia selalu merasakan ada duri tajam yang mengganjal. Ada detail-detail janggal yang tidak pernah diungkap ke permukaan.
"Kau tahu siapa pengirimnya, Rendy?" tanya Hidayat, matanya menyipit menatap asistennya.
"Demi Tuhan, Pak, saya tidak tahu apa-apa," jawab Rendy cepat, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Saya hanya menjalankan tugas menerima surat itu. Sumpah, saya tidak terlibat dalam lelucon atau permainan apa pun."
Hidayat mengamati wajah Rendy selama beberapa detik, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, yang ia temukan di sana hanyalah keringat dingin di pelipis Rendy dan kepanikan yang tulus. Asistennya itu terlalu penakut untuk merencanakan permainan psikologis sebesar ini.
Hidayat melirik jam tangan mewahnya. Pukul sebelas malam lewat seperempat.
"Siapkan mobil," perintah Hidayat singkat, suaranya kini mengandung otoritas mutlak yang tidak membukakan ruang untuk perdebatan.
"Tapi, Pak Nur... ke Kota Tua tengah malam begini? Sendirian? Kawasan itu rawan, dan—"
"Aku tidak menyuruhmu ikut, Rendy," potong Hidayat dingin sambil menyambar mantel panjang kasual berwarna hitam dari sandaran kursi. "Siapkan Mercedes Maybach di basement. Dan kunci mulutmu rapat-rapat. Jika sampai besok pagi aku tidak kembali atau tidak bisa dihubungi, serahkan amplop ini ke kantor kepolisian pusat. Paham?"
Rendy menelan ludah dengan susah payah, mengangguk kaku. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan."
❖ ❖ ❖
Mercedes Maybach hitam meluncur membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Rintikan gerimis di luar kaca mobil bergesekan dengan bilah wiper yang bergerak teratur. Di kursi belakang, Hidayat duduk menyandarkan punggungnya, menatap layar ponselnya yang menampilkan peta digital menuju kawasan Kota Tua. Di luar jendela, lanskap kota berubah secara dramatis dari gemerlap gedung-gedung pencakar langit modern berarsitektur kaca dan baja menjadi barisan bangunan tua era kolonial Belanda dengan dinding-dinding tinggi yang mengelupas, jendela kayu berukuran raksasa, serta lampu jalan kuning temaram yang memancarkan cahaya suram.