Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Bisikan Hati di Sepertiga Malam

Malam merayap lambat di atas genting-genting kota, membawa serta keheningan yang kerap kali menjadi musuh bagi orang-orang yang menyimpan resah. Di dalam sebuah kamar berukuran sederhana, lampu tidur memancarkan pijar kekuningan yang redup, jatuh tepat di atas permukaan meja kayu berantakan. Di sana, Hidayat duduk bersila di atas sajadah tipis yang warnanya telah memudar di beberapa bagian. Usianya baru menginjak kepala tiga, tetapi gurat lelah di wajahnya seolah mencatat beban hidup yang jauh lebih tua.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Waktu di mana sebagian besar manusia terlelap dalam mimpi, membiarkan tubuh mereka beristirahat dari penatnya dunia. Namun, bagi Hidayat, sepertiga malam terakhir justru menjadi medan perang batin yang paling melelahkan. Ia menarik napas panjang, merasakan udara dingin menyusup hingga ke relung dada, tetapi sama sekali tidak mampu mendinginkan gejolak yang berkecamuk di dalam kepalanya.

"Ya Allah... sampai kapan hidupku berputar dalam lingkaran yang hampa ini?" bisik Hidayat pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derik kipas angin tua di sudut kamar.

Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri. Tangan yang setiap hari bekerja keras, mengetik laporan kantor hingga larut malam, mengejar target angka yang tak pernah ada habisnya, dan berjuang menumpuk materi demi standar kesuksesan yang ditetapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, semakin ia mengejar, semakin hampa pula rongga dadanya. Materi terkumpul, rekening bertambah, tetapi ketenangan batin yang ia dambakan bagaikan fatamorgana—terlihat indah dari kejauhan, tetapi sirna saat didekati.

Pintu kamar terbuka sedikit. Istrinya, Siti, berdiri di ambang pintu dengan balutan mukena putih yang masih melekat di tubuhnya. Perempuan itu baru saja menyelesaikan shalat tahajudnya. Dengan langkah senyap, Siti mendekati suaminya, lalu duduk bersimpuh di sebelah sajadah.

"Belum tidur, Yah?" tanya Siti lembut, tangannya terulur menyentuh pundak Hidayat yang terasa tegang.

Hidayat mendongak, menatap mata istrinya yang memancarkan keteduhan yang selama ini ia rindukan. "Aku tidak bisa tidur, Mah. Kepalaku penuh. Rasanya seperti ada beban berat yang menghimpit dada setiap kali aku mencoba memejamkan mata."

Siti tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan pengertian mendalam. "Beban itu tidak akan hilang kalau dicari jawabannya di tempat yang salah, Yah. Coba renungkan, apa yang sebenarnya sedang kita cari di dunia ini?"

"Aku mencari kedamaian, Mah," jawab Hidayat cepat, nada suaranya menyiratkan keputusasaan. "Tapi kedamaian itu terasa begitu jauh. Setiap hari aku merasa hidup kita hanya berporos pada pekerjaan, uang, dan rutinitas tanpa ujung. Apakah hidup kita hanya sebatas ini?"

"Mungkin karena kita lupa pada Sang Pemilik Hidup," ucap Siti pelan, namun setiap kata mendarat telak di hati Hidayat. "Kita sibuk membangun dunia, tapi kita melalaikan akhirat. Kita mengejar pengakuan manusia, tapi melupakan ridha Allah."

Hidayat terdiam. Kalimat istrinya bukan sebuah tuduhan, melainkan sebuah cermin telanjang yang memantulkan keburukannnya sendiri selama ini. Ia seorang sarjana, ia paham banyak hal tentang ilmu dunia, hukum, ekonomi, dan teknologi. Namun, ketika ditanya tentang dasar-dasar agamanya sendiri, tentang bagaimana mengenal Tuhannya secara benar, ia merasa dirinya begitu bodoh dan kosong.

"Aku merasa tersesat di tengah keramaian, Mah," ujar Hidayat dengan suara parau. "Aku ingin berubah. Aku ingin mencari ketenangan sejati, bukan ketenangan palsu yang hanya datang sesaat setelah gajian atau setelah liburan akhir pekan."

"Kalau begitu, mulailah melangkah, Yah," dorong Siti penuh keyakinan. "Ilmu agama Islam itu luas, ibarat samudera yang menyimpan mutiara tak ternilai. Pintu taubat dan hidayah selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau mengetuknya dengan sungguh-sungguh."

Hidayat menunduk, memandang kembali sajadah di bawah lututnya. Di dalam keheningan malam yang sakral itu, sebuah tekad bulat mulai mengakar di dalam dadanya. Ia tidak ingin lagi hidup dalam kelalaian. Ia berjanji pada dirinya sendiri, malam ini akan menjadi titik balik. Ia akan mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk mendalami ilmu agama Islam, mencari hakikat hidup, dan meraih ketenangan sejati yang selama ini ia impikan.

❖ ❖ ❖

Matahari baru saja menerobos celah-celah gedung perkotaan ketika Hidayat melangkah memasuki lobi kantornya. Biasanya, jam-jam seperti ini diisi dengan wajah-wajah muram para pegawai yang enggan menghadapi tumpukan surel dan rapat pagi. Namun, hari ini ada yang berbeda dari diri Hidayat. Langkah kakinya terasa lebih ringan, meski bayang-bayang kantuk masih menggelayuti kelopak matanya akibat begadang semalaman merenung dan membaca lembaran-lembaran Al-Qur'an terjemahan.

"Pagi, Pak Hidayat! Wah, tumben datang paling awal. Ada dokumen penting yang mau dikejar?" sapa Rian, rekan sekantornya, sambil membawa segelas kopi panas.

"Pagi, Rian. Tidak ada dokumen khusus kok. Hanya merasa... lebih tenang saja hari ini," jawab Hidayat dengan senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan sebelumnya.

Rian mengerutkan kening, menatap Hidayat penuh selidik. "Tenang? Di tengah deadline proyek yang tinggal tiga hari lagi ini? Bapak tidak sedang demam kan? Biasanya kalau deadline mepet, muka Bapak paling tegang sekantor."

Hidayat tertawa kecil. "Mungkin karena aku mulai menyadari bahwa hidup ini bukan cuma soal deadline kantor, Ri. Ada hal lain yang jauh lebih penting untuk diselesaikan."

"Wah, mulai filosofis nih agaknya. Kena pencerahan dari mana, Pak?" tanya Rian setengah bercanda.

"Dari rumah. Dari perenungan panjang semalam," jawab Hidayat singkat, lalu berlalu menuju ruang kerjanya.

Namun, ketenangan itu diuji begitu ia membuka layar komputer. Puluhan surel dari klien, pesan dari manajer operasional yang menanyakan progress laporan, serta panggilan dari atasannya langsung mendominasi layar monitor. Tekanan dunia kerja seolah langsung menerkamnya, berusaha merenggut kedamaian batin yang baru saja ia pupuk semalam.

Hidayat menarik napas dalam-dalam. Ia teringat percakapannya dengan Siti. Dunia memang menuntut segalanya dengan cepat, tetapi ia tidak boleh lagi membiarkan jiwanya terseret arus kesibukan duniawi tanpa arah. Di tengah dering telepon meja yang berulang kali berbunyi, ia membuka sebuah tab peramban baru dan mengetik sebuah kata kunci di mesin pencari: kajian islam dasar untuk pemula.

Pintu ruangannya diketok tiga kali sebelum sosok Rudi, manajer HRD yang dikenal tegas dan dingin, melangkah masuk tanpa diundang.

"Hidayat, saya butuh laporan analisis anggaran kuartal kemarin sekarang juga. Direktur utama menanyakannya di meja rapat jam sepuluh nanti," kata Rudi tanpa basa-basi, wajahnya menyiratkan ketegangan tinggi.

Hidayat mendongak menatap atasannya. Dulu, teguran atau permintaan mendadak seperti ini akan langsung membuat jantungnya berdegup kencang, memicu kepanikan, dan membuatnya marah dalam hati. Namun hari ini, ia merespons dengan kepala dingin.

"Baik, Pak Rudi. Laporan sedang saya finalisasi. Dalam waktu tiga puluh menit akan saya kirimkan ke meja Bapak," jawab Hidayat dengan nada tenang dan terkontrol.

Rudi tampak sedikit terkejut dengan respons Hidayat yang tidak defensif seperti biasanya. "Bagus kalau begitu. Jangan sampai ada kesalahan angka lagi seperti bulan lalu," ujar Rudi ketus sebelum berbalik meninggalkan ruangan.

Selepas kepergian Rudi, Hidayat kembali menatap layarnya. Ia tidak langsung mengetik laporan, melainkan meluangkan waktu satu menit untuk beristighfar, memohon keteguhan hati kepada Allah di tengah hiruk-pikuk pekerjaan dunia. Ia menyadari bahwa ujian pertamanya telah datang—menjaga keseimbangan antara tanggung jawab duniawi dan niat barunya untuk mendalami agama.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya