Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Tekad Bulat Sang Pewaris

Malam itu, angin lembap dari luar jendela kamar tidur utama berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan desir daun mahoni yang bergesekan di pekarangan rumah besar keluarga Kiai Haji Sulaiman. Di dalam ruangan yang luas dengan perabotan kayu jati tua berukir khas Jepara itu, Hidayat berdiri di dekat meja tulis. Cahaya lampu meja berwarna kuning temaram menerangi separuh wajahnya yang tampak tegang, sementara separuh lainnya tersembunyi dalam bayang-bayang.

Di atas meja, terbentang sepucuk surat bermeterai dengan stempel resmi yayasan pesantren yang dipimpin ayahnya. Surat itu adalah ketetapan mutlak: namanya telah diputuskan sebagai calon tunggal penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah, sebuah imperium pendidikan Islam tradisional yang sangat disegani di wilayah Jawa Timur.

"Ini adalah takdirmu, Dayat. Darah yang mengalir di nadimu adalah darah para pengasuh pesantren ini," suara bariton Kiai Sulaiman terngiang-ngiang di kepala Hidayat, mengulang percakapan mereka sore tadi di ruang kerja pribadi sang ayah.

Hidayat menghela napas panjang, rongga dadanya terasa sesak oleh beban ekspektasi yang teramat berat. Ia tidak pernah membenci pesantren tempat ia dibesarkan, namun ia muak dengan kenyamanan semu dan karpet merah yang selalu dibentangkan di setiap langkahnya. Sebagai anak kiai besar, hidupnya diatur sejak bangun tidur hingga terlelap kembali. Tidak ada ruang bagi kesalahan, tidak ada toleransi untuk menjadi manusia biasa. Setiap gerak-geriknya selalu dinilai oleh ratusan pasang mata santri dan masyarakat sekitar yang melihatnya bukan sebagai Hidayat, melainkan sebagai simbol kesucian dan masa depan pondok.

"Aku bukan simbol. Aku manusia yang ingin mencari arti hidupku sendiri, bukan sekadar menjadi pewaris takhta yang meneruskan warisan tanpa tahu bagaimana rasanya berjuang dari bawah," gumam Hidayat pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derik jangkrik di luar kamar.

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk tiga kali dengan ketukan yang sudah sangat ia kenal—ketukan khas milik Karim, abdi dalem kepercayaan ayahnya yang sudah mengabdi selama puluhan tahun.

"Mas Hidayat, apa suara hamba terdengar? Ini Karim," bisik suara dari balik pintu.

Hidayat segera melangkah cepat dan membuka pintu tersebut. Karim berdiri di sana dengan membawa secangkir teh poci hangat di atas nampan kecil, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

"Mas, kiai besar masih terjaga di ruang kerjanya. Beliau membahas persiapan kedatangan para tamu undangan dari dewan syura besok pagi," kata Karim dengan nada berbisik seraya melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

Hidayat mengambil cangkir teh dari nampan itu, namun tidak meminumnya. Ia menatap tajam mata Karim.

"Karim, katakan yang sejujurnya padaku. Apa kau benar-benar mendukung semua rencana ayahku untuk menjadikan aku pemimpin pesantren ini tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya kuinginkan?" tanya Hidayat langsung pada inti persoalan.

Karim tertegun sejenak, bahunya yang biasanya tegak mendadak sedikit merosot. Ia meletakkan nampannya di atas meja kecil dekat sudut ruangan.

"Mas Hidayat, hamba hanya orang kecil yang mengabdi pada keluarga ini. Hamba melihat bagaimana kiai besar berdarah-darah membangun nama besar Al-Hidayah. Beliau hanya ingin jerih payah itu tidak sia-sia di tangan generasi penerus," jawab Karim dengan suara bergetar halus.

"Tapi bukan dengan cara mengurung kehidupanku di dalam sangkar emas, Karim! Aku merasa tercekik. Aku ingin pergi. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi santri biasa yang datang tanpa membawa nama besar keluarga," ucap Hidayat dengan penekanan di setiap suku katanya, menyembunyikan getaran emosi di dadanya.

Karim membelalakkan matanya, napasnya seketika tercekat mendengar kalimat itu. "Mas... Gusti Allah! Jangan berbicara sembarangan. Pergi ke mana? Anda adalah satu-satunya putra mahkota. Jika anda pergi, kiai besar bisa jatuh sakit karena menanggung malu dan beban pikiran!"

"Aku tidak akan kabur selamanya, Karim. Aku hanya ingin pergi selama satu tahun. Aku ingin masuk ke pesantren di pelosok, pesantren yang tidak mengenal siapa aku, dan belajar di sana sebagai santri miskin yang harus mencuci pakaiannya sendiri dan mengantre air di kamar mandi," balas Hidayat dengan tatapan mata yang menyiratkan tekad baja.

Karim menggelengkan kepalanya dengan kuat, kedua tangannya terangkat menolak gagasan gila tersebut. "Itu bunuh diri sosial, Mas! Dunia pesantren luar sangat keras. Anda tidak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa fasilitas yang mencukupi. Kulit tangan anda yang halus itu bisa melepuh karena menimba air setiap subuh!"

"Justru itu yang kuinginkan, Karim! Aku ingin menguji seberapa kuat diriku tanpa atribut kebesaran keluargaku," potong Hidayat cepat, mendekati Karim dan mencengkeram kedua bahu lelaki paruh baya itu dengan lembut namun tegas. "Dan aku butuh bantuanmu."

Karim menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. "Bantuan... bantuan seperti apa yang Mas harapkan dari hamba yang bodoh ini?"

"Aku sudah menyiapkan semuanya. Pakaian santri tua milik almarhum sepupuku yang dulu pernah tinggal di sini, sarung usang tanpa merek, dan sebuah peci hitam dekil yang sudah kucuci bersih tapi sengaja kubuat tampak kusam. Aku juga akan memotong pendek rambutku dini hari nanti," tutur Hidayat menjelaskan detail rencananya.

Karim menatap Hidayat dengan pandangan tidak percaya. "Lalu, bagaimana dengan laporan kepada kiai besar jika beliau mencari anda di kamarnya?"

"Katakan saja aku sedang melakukan uzlah atau meditasi malam di makam leluhur di belakang kompleks pesantren seperti yang biasa kulakukan saat aku butuh ketenangan. Beliau tidak akan curiga jika kau yang mengatakannya," jawab Hidayat mantap.

❖ ❖ ❖

Menjelang pukul dua pagi, suasana Pondok Pesantren Al-Hidayah terbungkus dalam keheningan yang pekat. Hidayat telah mengenakan pakaian penyamarannya: sebuah sarung tenun kasar berwarna hijau lumut yang sudah agak pudar di bagian lipatannya, baju koko putih berukuran sedikit kebesaran dengan noda samar di bagian saku dada, serta sebuah tas punggung kanvas usang berisi beberapa lembar pakaian seadanya dan sedikit uang tunai pecahan kecil hasil tabungannya sendiri selama berbulan-bulan.

Ia berdiri di depan cermin besar kamarnya, memandangi pantulan dirinya sendiri. Sosok pemuda bangsawan pesantren yang biasanya tampak rapi dan berwibawa kini telah lenyap, berganti dengan rupa seorang pemuda desa biasa yang tampak sederhana, bahkan terkesan kurang gizi jika melihat sorot matanya yang menyembunyikan keletihan mental.

"Apakah penampilanku sudah cukup meyakinkan, Karim?" tanya Hidayat pelan ketika Karim masuk kembali ke dalam kamar membawa sebuah bungkusan kecil berisi perbekalan makanan kering.

Karim mengamati Hidayat dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan saksama. Ia menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala pelan. "Dari pakaiannya, anda sudah sangat mirip dengan santri-santri pindahan dari daerah pedalaman. Tapi sorot mata anda, Mas... sorot mata seorang pemimpin tidak bisa disembunyikan begitu saja. Orang yang jeli akan tahu bahwa anda bukan santri kebanyakan."

"Aku akan belajar menunduk, Karim. Aku akan belajar berjalan dengan bahu yang sedikit membungkuk agar tidak menarik perhatian," kata Hidayat sambil melatih cara jalannya di lantai kamar.

Karim menyerahkan bungkusan kain berisi nasi jagung dan beberapa potong tempe bacem buatan bibi dapur yang sengaja ia sisihkan secara diam-diam. "Ini untuk bekal di perjalanan, Mas. Anda berencana naik apa ke sana? Bus malam jurusan Kediri sudah lewat sejak jam satu tadi."

Lihat selengkapnya