Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #24

Ketika Cinta Tak Terbalas

Saka POV

Aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku perlu mengembalikan buku dan meminjam buku lain di perpustakaan sebelum masuk kelas. Saat aku berjalan melalui halaman depan kampus, aku melihat Agnia. Dia duduk bersama kawan-kawan seangkatannya dulu. Agnia terlihat ceria, dia terlibat percakapan dan kadang tertawa. Halaman depan kampus yang cukup luas membuatku bisa melihatnya lebih lama hingga aku harus melewatinya. Sepertinya dia sudah kembali seperti semula. Aku harap begitu, namun dengan Agnia, kadang aku merasa dia bisa bersembunyi di balik tawanya. Aku sungguh berharap dia baik-baik saja. Kulewati Agnia dan teman-temannya menuju perpustakaan sekolah. Kami akan bertemu nanti di kuliah ketiga.

Saat aku masuk kelas, Agnia sudah duduk di kursinya. Dia langsung melihatku sambil tersenyum seperti biasa.

"Hai, Saka," sapanya.

"Hai... Kau berangkat pagi sekali hari ini." Aku meletakkan tasku lalu duduk di sampingnya.

"Kok kamu tahu?" Agnia mengernyitkan dahinya.

"Tadi aku melihatmu duduk di halaman depan bersama teman-temanmu."

"Kenapa tidak menyapaku?"

"Aku tidak mau mengganggu, lagipula aku harus ke perpustakaan, dan kelas pertama kita berbeda, kan?"

"Betul juga. Tapi Saka tidak pernah mengganggu. Aku akan senang berjalan masuk bersamamu, atau menemanimu ke perpustakaan." Agnia tiba-tiba terdiam seperti berpikir sebelum melanjutkan kembali. "Tapi sepertinya memang lebih tepat kalau Saka tidak menyapaku tadi."

Jawabannya membuatku bertanya, "Kenapa jadi berpikir begitu?"

"Karena aku akan melakukan hal tadi. Berhenti bicara dengan temanku lalu mengikutimu."

"Apa itu hal yang buruk?"

"Bukan untukku, tapi mungkin untukmu."

Dia bicara dalam teka-teki lagi. "Aku tidak mengerti. Aku tidak pernah berpikir berjalan denganmu adalah hal buruk."

"Syukurlah kalau begitu," katanya sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke depan.

"Bagaimana dengan hal buruk yang terjadi kemarin? Apa semuanya sudah baik-baik saja?" tanyaku, membuatnya kembali melihatku.

"Bukan hal buruk, hanya hal yang tidak aku inginkan," dia mengoreksi. "Setelah aku pikir-pikir, aku sudah melakukan hal yang tepat. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya lagi."

"Begitu ya. Lalu soal perkataanmu kemarin, kau jadi bisa merasakan menjadi aku, apa maksudnya?"

Agnia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya. "Baiklah, akan aku ceritakan, tapi tidak di sini. Bagaimana kalau kita makan nanti setelah kuliah?"

"Oke. Kau bawa motor?" Dia mengangguk.

Setelah kuliah selesai, kami bertemu di tempat parkir motor mahasiswa. Agnia memberikan kuncinya padaku. Kami memutuskan untuk makan di warmindo yang tak terlalu jauh dari kosku setelah Agnia meyakinkanku kalau dia belum makan mie instan dalam seminggu ini. Aku dan Agnia langsung menuju ke sana. Dia memesan semangkuk mie rebus dengan telur, sedangkan aku memesan mie goreng. Sepertinya kami berdua sudah terlalu lapar atau karena mie instan memang selalu lebih menggoda, jadi kami tidak banyak bicara sebelum menghabiskan makanan. Setelah mangkuk dan piring kami bersih, baru Agnia mulai bersuara.

"Kau sungguh ingin tahu ceritanya?"

"Iya." Lalu aku berpikir sejenak. "Tapi kalau kau tidak mau bercerita, tak mengapa."

"Bukan begitu. Ini bukan rahasia. Aku hanya penasaran kenapa kau begitu ingin tahu?"

Setelah terdiam beberapa detik, aku menjawab, "Karena kau yang mengalaminya dan... karena kau menyebut namaku kemarin. Aku rasa aku perlu tahu."

Lihat selengkapnya